Kamis, 02 Juni 2011

[5] Mahasiswa 3 Pisau


"mahasiswa berseragam .."
 
Skripsweet (baca:skripsi), satu kata ampuh yang mampu menyedot waktu, menjadi pusat perhatian dan pikiran bagi mahasiswa S1 atau D4 di tahun terakhirnya (termasuk aku di semester 8 saat ini). Jika dulu, sewaktu di SD, SMP atau SMA kita kudu bisa lulus UAN (Ujian Akhir Nasional) agar bisa melanjutkan ke tingkat pendidikan selanjutnya, maka skripsweet ini merupakan salah satu syarat yang kudu dilewati juga agar gelar SARJANA bisa diraih. Skripsweet menjadi sebuah persyaratan akhir seorang mahasiswa agar bisa diwisuda, sebagai akhir dari perjalanan panjangnya selama kuliah di perguruan tinggi. Sebuah bukti bahwa seorang mahasiswa telah mampu menghasilkan suatu karya ilmiah, hasil dari proses belajarnya selama kuliah. Dan sebuah pencapaian yang membutuhkan totalitas perjuangan dari seorang mahasiswa agar bisa menghasilkan suatu karya yang benar - benar bermanfaat.

Mahasiswa yang sedang berada di tahun terakhir itu layaknya seorang yang memiliki 3 pisau. Pisau yang pertama adalah pisau untuk memotong daging (pisau daging), pisau kedua adalah pisau untuk memotong roti (pisau roti) dan pisau ketiga adalah pisau dapur. Maka, ada 3 sikap yang berbeda yang akan dilakukan olehnya ketika ada seseorang yang meminta tolong untuk memotongkan sepotong daging kepadanya. Yang pertama, ia akan menggunakan sembarang pisau yang ia punya untuk memotong daging itu, entah itu pisau daging, pisau roti maupun pisau dapur. Dalam pikirannya yang terpenting adalah daging itu dapat terpotong sesuai dengan keinginannya tanpa memperdulikan pisau apa yang ia gunakan.

Yang kedua, ia akan menggunakan pisau daging untuk memotong daging itu, karena ia telah mengetahui bahwa daging itu akan mudah terpotong sesuai dengan keinginannya ketika ia menggunakan pisau daging. Ia telah mengetahui bahwa ketika menggunakan pisau daging akan lebih mudah dan cepat untuk memotong daging itu daripada dengan menggunakan 2 pisau lainnya yang ia punya. Ia mampu menggunakan pisau yang ia miliki dengan tepat sesuai dengan benda yang akan dipotongnya. Ketika ada seseorang yang meminta untuk memotongkan sayuran atau buah-buahan maka ia gunakan pisau dapur untuk memotongnya. Demikian juga ketika ada seseorang yang meminta untuk memotongkan roti maka ia akan menggunakan pisau roti untuk memotongnya.

Yang ketiga, ia tidak hanya menggunakan pisau daging untuk memotong daging itu, tetapi ia juga memikirkan agar pisau daging yang ia miliki bisa lebih tajam dan cepat untuk memotong daging itu. Tidak hanya sekedar memakai pisau daging yang sudah ia miliki tetapi ia juga berusaha untuk membuat pisau daging yang ia miliki itu lebih tajam bahkan ia berusaha untuk mencari pisau daging lainnya yang memiliki ketajaman lebih dari yang ia miliki, sehingga daging itu akan lebih sempurna terpotong. Hal yang sama ia lakukan ketika akan memotong sayuran atau buah-buahan dengan pisau dapur dan ketika akan memotong roti dengan pisau roti yang ia punya.

Ilustrasi di atas aku buat untuk menggambarkan bagaimana karakteristik seorang mahasiswa yang berada di tahun terakhirnya. Aku ibaratkan metode analisis yang telah dikuasai seorang mahasiswa sebagai pisau yang ia miliki seperti ilustrasi di atas. Seorang mahasiswa dituntut untuk mampu menguasai metode-metode analisis terkait bidang/jurusan yang ia ambil. Sehingga ketika sudah terjun ke masyarakat atau dunia pekerjaannya ia mampu menganalisis dan melihat fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat atau terkait pekerjaannya dengan tepat dan mampu menemukan solusi pemecahannya. Oleh karena itu, seorang mahasiswa sebelum diwisuda sebagai tanda kelulusannya perlu diuji terlebih dahulu. Ia harus mampu menulis skripsi bagi mahasiswa tingkat S1 atau D4, thesis bagi mahasiswa tingkat S2 dan disertasi bagi mahasiswa tingkat S3. Ia dituntut untuk membuktikan kalau ia telah mampu menggunakan metode analisis dan ilmu yang telah ia pelajari selama kuliah dalam bentuk tulisan-tulisan tadi sesuai permasalahan ilmiah yang ia ambil. Aku ibaratkan pisau yang dimiliki orang di atas adalah metode analisis yang telah ia kuasai dan permasalahan ilmiah itu sebagai sepotong daging yang akan dipotong seperti ilustrasi di atas.

Seorang mahasiswa S1 atau D4 yang sedang menyusun skripsi adalah seperti sikap pertama dalam ilustrasi di atas. Ketika mengerjakan skripsi, pada dasarnya ia hanya dituntut untuk dapat menggunakan salah satu metode analisis yang telah ia pelajari untuk menyelesaikan suatu permasalahan ilmiah. Ia hanya dituntut untuk membuktikan bahwa ia telah mampu menggunakan salah satu metode analisis yang telah ia pelajari untuk menyelesaikan suatu permasalahan ilmiah. Sedangkan penyusunan thesis mahasiswa S2 adalah seperti sikap kedua dalam ilustrasi di atas. Ia dituntut untuk mampu menggunakan dengan tepat metode analisis sesuai dengan permasalahan yang dihadapi sehingga mampu menghasilkan analisis yang lebih tajam dan akurat. Sedangkan sikap ketiga seperti pada ilustrasi di atas adalah seperti seorang mahasiswa S3 yang sedang menyusun disertasinya. Ia tidak hanya dituntut untuk mampu menggunakan metode analisis dengan tepat dan memberikan hasil analisis yang tajam dan akurat, tetapi ia juga diharapkan mampu menyempurnakan metode analisis yang telah ada atau menciptakan metode analisis baru yang lebih bagus dari sebelumnya.

Jadi, dalam penyusunan skripsi, thesis maupun disertasi itu sebenarnya sudah ada tingkat-tingkat kesulitannya sendiri. Maka akan lebih nyaman dan tepat ketika menyusun skripsi itu ya sesuai dengan tingkat kesulitan pembuatan skripsi. Sepertinya akan sangat repot ketika membuat skripsi tetapi sudah berani mengambil kesulitan setingkat thesis atau disertasi. Memang tidak salah, asal ia mampu dan memang memiliki kemampuan, dan mungkin ini akan sangat berguna. Tapi kalau ada yang lebih mudah ngapain pilih yang susah-susah. Walau itu sederhana tapi benar dan sesuai aturan aku rasa malah akan lebih baik daripada menyusahkan diri untuk mengambil sesuatu yang lebih susah diraih. Mending sekarang yang sederhana dulu untuk skripsi, baru menyiapkan yang lebih lagi di thesis dan disertasi nantinya (semoga bisa sampai S3 beneran, aamiin). Kalau skripsi saja sudah dikerjakan setingkat disertasi, gimana disertasinya? So, aku rasa bertahap itu akan lebih baik.

Ayo, buat yang lagi nyusun skripsi (termasuk aku) tetap semangat. Kalau kita hanya mahir memakai pisau dapur pakailah pisau dapur itu dulu untuk memotong daging, daripada memaksakan memakai pisau daging tetapi akhirnya daging itu tidak terpotong atau malah akhirnya melukai kita sendiri karena kita belum mahir memakainya. Hanya tinggal ini, setelah itu wisuda, memakai toga dan buat orang tua bahagia. Skripsweet ini kudu selesai!
24 September 2011, tunggu aku.
Semangat semuanya! semoga skripsweet ini benar-benar berakhir dengan so sweet..;D

*sebuah catatan seorang mahasiswa yang semakin bingung dengan skripsinya (semoga dimudahkan..aamiin).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar