Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 April 2013

[37] Pertumbuhan Ekonomi vs Pengangguran di Indonesia (SKI Part 3)


Pada tulisan seri ketiga tentang Struktur Ketenagakerjaan Indonesia ini, kita akan membahas bersama mengenai kaitan pertumbuhan ekonomi dan angkatan kerja di Indonesia. Jika kita berbicara tentang pertumbuhan ekonomi dan angkatan kerja, maka kita akan menemukan cukup banyak teori tentang dua hal ini. Salah satunya Todaro (2000) mengatakan bahwa pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan angkatan kerja secara tradisional dianggap sebagai salah satu faktor positif yang memacu pertumbuhan ekonomi. Jumlah tenaga kerja yang lebih besar berarti akan menambah tingkat produksi, sedangkan pertumbuhan penduduk yang lebih besar berarti ukuran pasar domestiknya lebih besar. Meski demikian hal tersebut masih dipertanyakan apakah benar laju pertumbuhan penduduk yang cepat benar-benar akan memberikan dampak positif atau negatif dari pembangunan ekonominya. 

Selanjutnya dikatakan bahwa pengaruh positif atau negatif dari pertumbuhan penduduk tergantung pada kemampuan sistem perekonomian daerah tersebut dalam menyerap dan secara produktif memanfaatkan pertambahan tenaga kerja tersebut. Kemampuan tersebut dipengaruhi oleh tingkat dan jenis akumulasi modal dan tersedianya input dan faktor penunjang seperti kecakapan manajerial dan administrasi. Dalam model sederhana tentang pertumbuhan ekonomi, pada umumnya pengertian tenaga kerja diartikan sebagai angkatan kerja yang bersifat homogen.

Untuk lebih jelasnya mari kita sama-sama melihat gambaran dari kedua hal di atas melalui analisis deskriptif dari data yang tersedia. 

Pertumbuhan Ekonomi dan Pengangguran di Indonesia
Analisis deskriptif yang saya lakukan untuk melihat bagaimana pertumbuhan ekonomi dan pengangguran yang terjadi di Indonesia pada kesempatan kali ini menggunakan range data dari tahun 1986-2010. Secara lebih rinci saya gambarkan dalam grafik di bawah ini.

 Pertumbuhan PDB Indonesia dan Tingkat Pengangguran Tahun 1986-2010

Saya akan menganalisisnya sama seperti pada saat menganalisis pertumbuhan ekonomi di Indonesia seperti pada artikel sebelumnya, dimana kita bagi analisis dalam tiga periode waktu, yaitu pada periode sebelum krisis ekonomi (1986-1996), pada saat krisis (1997-1999) dan setelah krisis (2000-2010). Pada penjelasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode sebelum krisis memiliki rata-rata yang cukup besar yaitu 7,76 persen. Pada periode ini terlihat bahwa tingkat pengangguran di Indonesia selalu berada di bawah tingkat pertumbuhan ekonomi. Artinya tingkat pertumbuhan ekonomi yang tercipta selama periode tersebut telah mampu menciptakan lebih banyak kesempatan kerja sehingga pertumbuhan tingkat pengangguran lebih kecil daripada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Memasuki tahun 1997 pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai menunjukan kecenderungan yang menurun dan puncaknya terjadi pada tahun 1998 dimana pada saat itu pertumbuhan ekonomi terpuruk pada tingkat -13,24 persen. Rendahnya tingkat pertumbuhan ekonomi ini ternyata diikuti dengan semakin naiknya tingkat pengangguran. Tingkat pengangguran di Indonesia terus meningkat sejak tahun 1997 yang nilainya hampir menyamai tingkat pertumbuhan ekonomi pada waktu itu, yaitu tingkat pengangguran sebesar 4,29 persen sedangkan pertumbuhan ekonominya sebesar 4,59 persen. Setelah tahun 1997, terlihat bahwa tingkat pengangguran Indonesia nilainya selalu berada di atas tingkat pertumbuhan ekonomi sampai dengan saat ini. 

Terpuruknya perekonomian Indonesia pada saat krisis  ekonomi membawa pengaruh pada semakin tingginya tingkat pengangguran. Hal ini karena tingkat pertumbuhan ekonomi yang turun berarti PDB saat itu turun dari periode sebelumnya. PDB yang turun berarti tingkat produksi output dari kegiatan produksi turun, hal ini menyebabkan permintaan terhadap tenaga kerja akan semakin turun. Banyaknya pekerja yang di PHK dan terus bertambahnya angkatan kerja semakin menambah tingkat pengangguran saat itu.
 
Tingkat pengangguran setelah periode krisis ekonomi masih terlihat terus meningkat hingga tahun 2005, bahkan mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah Indonesia yaitu mencapai angka 11,24 persen. Namun, setelah tahun 2005 tingkat pengangguran ini secara perlahan terus turun hingga mencapai 7,14 persen pada tahun 2010. Kinerja perkonomian Indonesia juga semakin baik pada periode ini, hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang semakin meningkat. Pada tahun 2010 tingkat pengangguran dengan pertumbuhan ekonomi hanya berbeda 1.03 persen dan diharapkan tingkat pengangguran ini akan semakin turun pada tahun berikutnya.

Secara lebih rinci, hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan tenaga kerja dapat dilihat melalui beberapa indikator/ukuran. Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan tenaga kerja ini antara lain dapat dilihat melalui: MPL (Marginal Productivity for Labor), elastisitas tenaga kerja, dan ILOR (Incremental Labor Output Ratio). MPL merupakan tambahan produksi yang diakibatkan penambahan satu tenaga kerja yang digunakan (Sukirno, 1996). ILOR adalah besarnya tambahan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menaikkan satu unit output baik secara fisik maupun nilai. Sedangkan elastisitas tenaga kerja merupakan presentase penambahan tenaga kerja untuk setiap satu persen pertumbuhan output.

Elastisitas Tenaga Kerja Indonesia
Elastisitas tenaga kerja dapat ditentukan nilainya dengan mencari rasio antara pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan tenaga kerja. Untuk melihat hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan tenaga kerja dalam penelitian ini hanya akan dilihat dari ukuran elastisitas saja. Secara nasional tingkat elastisitas tenaga kerja Indonesia selama tahun 1989-2010 saya sajikan dalam tabel dibawah ini.

Elastisitas Tenaga Kerja di Indonesia Tahun 1987-2010

Dari tahun 1987-2010 angka elastisitas tenaga kerja Indonesia selalu berada di bawah satu kecuali tahun 1999. Angka elastisitas tenaga kerja di bawah 1 ini menunjukkan bahwa kesempatan kerja di Indonesia bersifat inelastis, artinya setiap perubahan output sebesar 1 persen akan mengakibatkan perubahan kesempatan kerja kurang dari 1 persen. Pada tahun 2010 angka elastisitas tenaga kerja sebesar 0,52 artinya apabila terjadi peningkatan PDB Indonesia sebesar 1 persen maka akan menyebabkan terjadinya peningkatan kesempatan kerja di Indonesia sebesar 0,52 persen. Demikian juga pada tahun-tahun yang lain, angka elastisitas diartikan sama seperti penjelasan di atas.

Angka elastisitas tenaga kerja yang berada di bawah 1 ini menunjukan bahwa laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia lebih cepat dari laju pertumbuhan kesempatan kerja. Hal ini berarti pertumbuhan ekonomi yang tercipta selama ini belum mampu menyediakan kesempatan kerja yang besar. Nilai elastisitas sebesar 1 adalah nilai elastisitas yang ideal, dimana peningkatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi mampu meningkatkan kesempatan kerja seimbang dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi tersebut. Angka elastisitas terendah ada pada tahun 1998, yaitu pada saat terjadi krisis ekonomi. Hal ini terjadi karena pada waktu itu pertumbuhan ekonomi Indonesia memang sedang mengalami keterpurukan sehingga pertumbuhan yang terjadi tidak mampu menciptakan kesempatan kerja, justru banyak para pekerja yang kehilangan pekerjaannya.

Tulisan kali ini saya cukupkan sampai di sini dulu. Semoga bermanfaat untuk temen-temen pembaca. 
Wallahu a'lam bishowab.


Bumi Gorontalo, 19 April 2013
        -Eka Nurdiyanto- 


Sumber Referensi:
  1. Skripsi Eka Nurdiyanto, "Struktur Ekonomi dan Proyeksi Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral di Indonesia Tahun 2011-2012".
  2. Web resmi Badan Pusat Statistik (http://www.bps.go.id/).
read more

Jumat, 22 Februari 2013

[34] Dibalik Pertumbuhan Ekonomi Indonesia yang ‘Keren’


Sampai saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia memiliki nilai yang cukup baik diantara negara-negara lain di dunia. Pertumbuhan ekonomi yang mencapai angka di atas 6 persen pada beberapa tahun terakhir ini merupakan suatu prestasi ekonomi yang cukup baik yang mampu diraih Indonesia. Pasalnya pada beberapa tahun terakhir ini keadaan perekonomian dunia sebenarnya berada dalam kondisi yang kurang baik. Adanya krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat dan Eropa setidaknya membuat beberapa negara juga menerima dampaknya. Namun, tercatat sampai dengan saat ini Indonesia justru terus menunjukan performa perekonomian yang cukup baik, hal ini terlihat dari nilai pertumbuhan ekonomi yang mampu tumbuh di atas 6 persen.

Dibalik pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ‘keren’ ini, sebenarnya masih ada beberapa hal yang patut menjadi perhatian kita. Salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai nilai di atas 6 persen pada beberapa tahun terakhir ini masih didorong oleh sektor non-tradable, yaitu sektor ekonomi yang tidak menghasilkan barang untuk diperjualbelikan. Hal ini terlihat dari laju pertumbuhan sektor non-tradable pada beberapa tahun terakhir yang mengalami pertumbuhan di atas pertumbuhan (Produk Domestik Bruto) rata-rata. Sedangkan pertumbuhan sektor tradable (sektor pertanian, pertambangan dan industri) sendiri nilainya selalu dibawah pertumbuhan PDB. Jika kita lihat data yang ada, untuk tahun 2001 sampai 2011 misalnya, terlihat bahwa pertumbuhan sektor tradable nilainya selalu lebih rendah dari pertumbuhan PDB. 

       Tabel Perbandingan Pertumbuhan Sektor 
 Tradable dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Padahal jika kita lihat dari struktur penyerapan tenaga kerja Indonesia sampai saat ini, sektor tradable adalah sektor yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Pada tahun 2010 misalnya, sektor tradable mampu menyerap sampai 52,28% dari jumlah tenaga kerja yang ada. 


Idealnya, sektor tradable di Indonesia seharusnya memiliki pertumbuhan di atas pertumbuhan ekonomi. Hal ini mengingat Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam. Sehingga menjadi kurang wajar sebenarnya jika ternyata sektor yang selalu mengalami peningkatan pertumbuhan melebihi pertumbuhan ekonomi selama beberapa tahun terakhir ini adalah sektor non-tradable.

Melihat kenyataan ini, sudah banyak pihak yang kemudian menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini sebenarnya berdiri di atas pondasi yang rapuh. Saya sendiri sedikit banyak sepakat dengan pendapat ini. Sekarang mari kita berpikir untuk jangka panjang. Sektor tradable sebagai sektor yang paling dominan dalam menghasilkan devisa bagi negara, saat ini berada dalam kondisi yang kurang bisa berkembang secara optimal (terlihat dari nilai pertumbuhannya yang masih rendah).  Sedangkan sektor tradable sendiri adalah sektor penghasil barang yang memiliki kekuatan besar untuk diperjualbelikan maupun untuk memenuhi kebutuhan sendiri.



Negara yang mampu menghasilkan berbagai barang atau produk sendiri menurut saya akan memiliki kekuatan perekonomian yang lebih kuat, yang jika suatu saat terjadi goncangan terhadap perekonomiannya akan lebih mampu bertahan. Secara sederhananya, mungkin saya ambil contoh seperti ini. Sebuah pabrik  mobil yang mampu memproduksi mobil secara optimal akan memberikan multiplayer efek yang baik juga untuk sektor yang lain. Dimulai dari komponen-komponen penyusun mobil itu sendiri, misalnya saja ban. Semakin banyak permintaan mobil dari konsumen maka permintaan ban secara otomatis akan ikut meningkat. Sebagai efeknya, permintaan terhadap karet sebagai bahan baku pembuatan ban akan ikut mengalami peningkatan. Dengan semakin meningkatnya permintaan karet dari pabrik ban ini, maka petani karet akan meningkatkan produksi karetnya, secara otomatis petani karet akan membutuhkan lebih banyak pupuk maupun barang lainnya untuk meningkatkan produksi karetnya. 

Bisa dibayangkan akan banyak sektor yang mampu ikut bergerak, padahal untuk membuat mobil membutuhkan sangat banyak komponen penyusun selain ban. Apalagi jika semua bahan baku yang dipakai adalah bahan baku yang berasal dari dalam negeri sendiri, saya pikir perekonomian Indonesia akan lebih mampu bergerak lagi. Melihat kekayaan sumber daya alam yang melimpah di Indonesia serta sumber daya manusia yang mencukupi, saya pikir bukan tidak mungkin jika Indonesia akan mampu untuk mencapai perekonomian yang tidak hanya tinggi namun juga kokoh dari dasarnya.

Ketika saya memperhatikan alat jahit yang dipakai istri saya, saya sempat terheran-heran ketika melihat jarum jahit dan benik ceplis yang ada di kotak peralatan jahitnya. Tertulis di sana ternyata jarum itu buatan China sedangkan benik nya buatan Jerman. Kreatif juga ya mereka, mampu menemukan ide untuk memproduksi barang-barang yang saya anggap sepele namun ternyata menjadi suatu kebutuhan yang dicari oleh orang-orang hingga akhirnya mampu diekspor ke negara lain. Walaupun barangnya kecil namun jika permintaannya banyak kan pada ujungnya juga lumayan dalam menghasilkan devisa bagi negara.

Semoga ke depan Indonesia mampu menjadi negara berbasis produksi yang mampu terus meningkatkan ekspor. Langkah kecil yang bisa kita lakukan saat ini adalah terus cintai dan gunakan produk dalam negeri, produk buatan bangsa sendiri. ^.^



Bumi Gorontalo, 22 Februari 2013

        -Eka Nurdiyanto-




Sumber Referensi: 
  1. Skripsi Eka Nurdiyanto, "Struktur Ekonomi dan Proyeksi Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral di Indonesia Tahun 2011-2012".
  2. Web resmi Badan Pusat Statistik (http://www.bps.go.id/)
  3. Kompas.com (http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/11/26/15274114/Pertumbuhan.Ekonomi.Nasional.Didorong.Oleh.Sektor.Non-Tradable.)
read more

Senin, 28 Januari 2013

[33] Struktur Ketenagakerjaan Indonesia (part 2)


Melanjutkan pembahasan pada artikel Struktur Ketenagakerjaan Indonesia (part 1), insya Allah pada kesempatan kali ini saya akan menuliskan analisis deskriptif terkait kondisi ketenagakerjaan Indonesia serta kaitannya dengan struktur ekonomi dan pertumbuhan ekonomi. 

Struktur Penyerapan Tenaga Kerja Indonesia
Salah satu ciri negara berkembang dari sisi demografi adalah tingginya proporsi usia muda (0-14 tahun). Jika kita melihat data statistik, proporsi penduduk usia muda di Indonesia pada tahun 1971 adalah sebesar 44 persen dari total jumlah penduduk Indonesia, artinya hampir setengah dari jumlah penduduk Indonesia masih berusia muda. Pada tahun 2010 proporsi penduduk usia muda mulai berkurang, yaitu hanya sekitar 26,03 persen dari total penduduk Indonesia. 

Komposisi Umur Penduduk Indonesia Tahun 1971-2010 (persen)

 
Pada dasawarsa terakhir, terlihat struktur penduduk Indonesia lebih condong ke struktur usia sedang. Hal ini terlihat dari semakin meningkatnya proporsi penduduk usia sedang setiap tahunnya. Proporsi penduduk usia sedang meningkat menjadi 68,64 persen dari total penduduk Indonesia pada tahun 2010, jika dibandingkan dengan tahun 1971 proporsi penduduk usia sedang ini meningkat sebesar 15,14 persen. Hal ini menunjukkan semakin banyak jumlah penduduk yang memasuki usia kerja yang pada akhirnya jumlah penduduk yang memasuki angkatan kerja juga semakin meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Besarnya jumlah penduduk yang memasuki angkatan kerja akan berdampak serius terhadap pembangunan, jika pertambahan penduduk ini tidak dibarengi dengan peningkatan kesempatan kerja di segala sektor maka akan terjadi tingkat pengangguran yang tinggi. Proporsi penduduk usia sedang yang terus bertambah seperti ini akan memperbesar peluang terjadinya Bonus Demografi di Indonesia. Silahkan klik disini jika ingin membaca tentang bonus demografi.

Melihat keadaan yang seperti ini, bisa saya katakan tingkat penawaran tenaga kerja di Indonesia masih cukup tinggi dan akan semakin meningkat untuk beberapa tahun ke depan. Lalu bagaimana dengan tingkat permintaannya? 

Berbicara tentang tingkat permintaan tenaga kerja, berarti kita berbicara tentang berapa besar tingkat kesempatan kerja yang mampu diciptakan oleh sektor-sektor ekonomi yang ada. Jika kita melihat data statistik yang ada, sampai dengan tahun 2010 sektor pertanian adalah sektor yang mampu menyerap jumlah tenaga kerja paling banyak dibandingkan sektor lainnya. Sektor pertanian masih menjadi tumpuan hidup banyak penduduk Indonesia. Jika kita lihat selama kurun waktu tahun 2000-2010 misalnya, selama kurun waktu tersebut penduduk Indonesia yang bekerja di sektor pertanian mencapai angka rata-rata sekitar 42 persen. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada tabel dibawah ini.

  Struktur Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral di Indonesia Tahun 
                                   2000-2010 (persen)

Secara lebih spesifik, mari kita fokuskan untuk tahun 2010 saja. Pada tahun 2010, masih terlihat bahwa sektor pertanian adalah sektor yang terbesar dalam menyerap tenaga kerja yang ada dibandingkan sektor lainnya. Sebesar 38.35 persen dari jumlah tenaga kerja yang ada mampu diserap oleh sektor pertanian. Sektor berikutnya yang mampu menyerap cukup banyak tenaga kerja adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran, diikuti oleh sektor jasa-jasa.

Penyerapan Tenaga Kerja Indonesia Sektoral Tahun 2010
 
Dari penjelasan diatas, terlihat bahwa sampai dengan tahun 2010 sektor pertanian merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar dalam penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Namun, jika kita melihat struktur ekonomi Indonesia sampai dengan saat ini, peran sektor pertanian dalam pembentukan PDB Indonesia masih kalah dibandingkan dengan sektor industri pengolahan yang justru memiliki tingkat penyerapan tenaga kerja jauh lebih kecil dibandingkan sektor pertanian pada dasawarsa terakhir ini. Sektor perdagangan, hotel dan restoran yang memiliki persentase penyerapan tenaga kerja cukup besar (melebihi sektor industri pengolahan) ternyata juga memiliki peran dalam pembentukan PDB yang masih dibawah sektor industri pengolahan. 

Kenyataan di atas menunjukan bahwa pada dasawarsa terakhir ini, sektor industri pengolahan sebagai sektor penyumbang terbesar dalam pembentukan PDB Indonesia masih belum mampu menyerap sebagian besar jumlah tenaga kerja yang tersedia. Apa akibatnya? Jika diibaratkan dalam sebuah keluarga yang beranggotakan cukup banyak orang dan memiliki 9 buah kue cake dengan berbagai macam ukuran mulai dari yang paling kecil ke paling besar. Maka sektor industri pengolahan adalah kue cake yang paling besar namun hanya bisa dinikmati oleh sedikit orang saja. Sedangkan sektor pertanian ibarat kue cake yang ukurannya sedang mendekati kecil namun orang-orang yang menikmati kue cake tersebut paling banyak dibandingkan kue cake lainnya. Saya yakin teman-teman sudah bisa menebak apa akibat yang terjadi di masyarakat dari keadaan ini.

Niat hati ingin menulis lebih banyak lagi tentang kaitan struktur penyerapan tenaga kerja dengan struktur ekonomi dan pertumbuhan ekonomi, namun sepertinya masih belum bisa. heee, seperti kemarin....bersambung lagi yaa..^__^ tunggu part 3 nya..

Semoga tulisan kecil ini bisa bermanfaat. Salam sukses
wassalamu'alaikum..


Bumi Gorontalo, 28 Januari 2013

         -Eka Nurdiyanto-



Sumber Referensi:
  1. Skripsi Eka Nurdiyanto, "Struktur Ekonomi dan Proyeksi Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral di Indonesia Tahun 2011-2012".
  2. Web resmi Badan Pusat Statistik (http://www.bps.go.id/)
read more

Senin, 23 Juli 2012

[27] Struktur Ketenagakerjaan Indonesia (part 1)


Setelah membahas tentang pertumbuhan ekonomi dan struktur ekonomi Indonesia pada tulisan sebelumnya, maka pada kesempatan kali ini saya akan menuliskan tentang salah satu dimensi pokok lainnya dalam proses pembangunan ekonomi Indonesia, yaitu ketenagakerjaan. Masalah ketenagakerjaan menjadi salah satu indikator pembangunan ekonomi yang juga sering disoroti oleh para peneliti dan pengambil kebijakan. Tak bisa dipungkiri memang, sampai dengan saat ini masalah ketenagakerjaan merupakan salah satu masalah pembangunan yang kompleks dan besar. Kompleks karena masalahnya mempengaruhi sekaligus dipengaruhi banyak faktor yang saling berinteraksi dengan pola yang tidak selalu mudah untuk dimengerti. Besar karena menyangkut jutaan jiwa. Sehingga masalah ketenagakerjaan menjadi salah satu poin penting yang menarik untuk dibahas dan diteliti. 

Konsep dan Definisi Tentang Ketenagakerjaan 
Sebelum kita bahas lebih dalam tentang ketenagakerjaan di Indonesia, ada baiknya kita bahas terlebih dahulu tentang konsep dan definisi dalam masalah ketenagakerjaan. Dalam tulisan saya kali ini, saya akan tuliskan beberapa konsep dan definisi tentang ketenagakerjaan yang digunakan oleh BPS, antara lain sebagai berikut:
  1. Penduduk, adalah semua orang yang berdomisili di wilayah geografis Republik Indonesia selama enam bulan atau lebih dan atau mereka yang berdomisili kurang dari 6 bulan tetapi bertujuan untuk menetap.
  2. Penduduk usia kerja, adalah mereka yang berdasarkan golongan umurnya sudah bisa diharapkan untuk mampu bekerja. Indonesia menggunakan batas bawah usia kerja (economically active population) 15 tahun (meskipun dalam survei dikumpulkan informasi mulai dari usia 10 tahun) dan tanpa batas atas usia kerja. Jadi penduduk usia kerja adalah penduduk yang berusia 15 tahun dan lebih.
  3. Angkatan kerja, adalah penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) yang bekerja, atau punya pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja dan yang mencari pekerjaan. Termasuk juga ke dalam angkatan kerja adalah mereka yang sedang mempersiapkan suatu usaha, sudah mempunyai pekerjaan tetapi belum mulai bekerja atau mereka yang tidak mencari pekerjaan dengan alasan tidak mungkin mendapatkan pekerjaan. Konsep angkatan kerja merujuk pada kegiatan utama yang dilakukan oleh penduduk usia kerja selama periode tertentu. Golongan angkatan kerja ini disebut juga penduduk yang aktif secara ekonomi (economically active population).
  4. Penduduk bukan angkatan kerja, adalah penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) yang tidak termasuk angkatan kerja. Golongan ini secara ekonomi memang tidak aktif dan disebut noneconomically active population. Kegiatan mereka mencakup sekolah, mengurus rumah tangga atau melakukan kegiatan lainnya.
  5. Bekerja, adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan paling sedikit 1 (satu) jam secara tidak terputus selama seminggu yang lalu. Kegiatan bekerja ini mencakup, baik yang sedang bekerja maupun yang punya pekerjaan tetapi dalam seminggu yang lalu sementara tidak bekerja, misalnya karena cuti, sakit dan sejenisnya.
  6. Pengangguran terbuka, adalah mereka yang tidak mempunyai pekerjaan, bersedia untuk bekerja, dan sedang mencari pekerjaan. Definisi ini digunakan pada pelaksanaan Sakernas 1986 sampai dengan 2000, sedangkan sejak tahun 2001 definisi penganggur mengalami penyesuaian/perluasan menjadi mereka yang sedang mencari pekerjaan, atau mereka yang mempersiapkan usaha, atau mereka yang  tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan (sebelumnya dikategorikan sebagai bukan angkatan kerja), dan mereka yang sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja (sebelumnya dikategorikan sebagai bekerja), dan pada waktu yang bersamaan mereka tak bekerja (jobless).
  7. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) adalah ukuran proporsi penduduk usia kerja yang terlibat aktif di pasar tenaga kerja, baik dengan bekerja atau mencari pekerjaan, yang memberikan indikasi ukuran relatif dari pasokan tenaga kerja yang tersedia untuk terlibat dalam produksi barang dan jasa. TPAK merupakan perbandingan antara jumlah angkatan kerja dengan jumlah seluruh penduduk usia kerja. TPAK bisanya diperkirakan masing-masing untuk jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) dan golongan umur. TPAK menunjukkan besaran relatif dari pasokan tenaga kerja (labor supply) yang tersedia untuk memproduksi barang dan jasa dalam suatu perekonomian.
  8. Penduduk yang bekerja menurut status pekerjaan utama. Status pekerjaan adalah kedudukan seseorang dalam melakukan pekerjaan di suatu unit usaha/kegiatan. 
Secara lebih detil, penjelasan terkait ketenagakerjaan di Indonesia dapat dijelaskan dalam gambar di bawah ini: 

Masalah Ketenagakerjaan di Indonesia
Masalah ketenagakerjaan yang masih dihadapi Indonesia antara lain dari sisi demografis yaitu tambahan kesempatan kerja yang tidak sebesar tambahan jumlah penduduk dan angkatan kerja. Hal ini terlihat dari semakin meningkatnya tingkat pengangguran dari tahun 1980-2010, walaupun pada tahun 2010 tingkat pengangguran terlihat menurun namun jumlah pengangguran masih cukup banyak. Angka pengangguran yang semakin bertambah ini menunjukkan bahwa pertumbuhan angkatan kerja jauh lebih besar daripada pertumbuhan kesempatan kerja. Akibatnya banyak angkatan kerja yang akhirnya tidak mampu terserap oleh kesempatan kerja yang ada dan akhirnya menjadi pengangguran. Dalam masalah ketenagakerjaan, studi terdahulu menunjukkan bahwa semakin tinggi angka pengangguran, maka probabilitas meningkatnya kemiskinan, kriminalitas dan fenomena sosial-ekonomi-politik lainnya akan semakin tinggi. Sehingga pengambilan kebijakan dalam masalah ketenagakerjaan perlu dilakukan dengan tepat.

Selain dari sisi demografi, beberapa hal lain yang juga berpengaruh terhadap ketenagakerjaan antara lain adalah adanya perilaku proteksionis dari negara-negara maju dalam menerima ekspor komoditi negara berkembang. Selain itu, persaingan yang semakin liberal diantara negara berkembang sendiri juga menjadi salah satu kendala dalam memasarkan komoditas dalam negeri yang dihasilkan. Penurunan pangsa pasar dari barang yang dihasilkan bisa terjadi jika produsen-produsen di dalam negeri tidak mampu bersaing dengan produsen dari luar negeri. Akibatnya akan menurunkan permintaan output pada suatu sektor yang pada akhirnya akan menurunkan permintaan tenaga kerja di sektor tersebut sehingga tingkat kesempatan kerja akan ikut turun.

Kondisi perekonomian, baik di dalam negeri maupun luar negeri juga ikut berpengaruh dalam masalah ketenagakerjaan. Peristiwa krisis ekonomi global yang terjadi pada tahun 2008 misalnya, peristiwa ini membawa dampak tidak langsung bagi perekonomian Indonesia, yaitu adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan pada tahun 2008-2009 dan penurunan permintaan impor yang terjadi akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Kondisi ini mendorong penurunan harga komoditas global sehingga menekan perekonomian negara-negara berkembang terutama yang berbasis ekspor komoditas. Seperti yang dijelaskan di atas, jika terjadi penurunan pada proses produksi yang disebabkan baik karena faktor penurunan permintaan ataupun lainnya maka akan berpengaruh juga pada jumlah faktor produksi yang digunakan, termasuk tenaga kerja.

Pertumbuhan ekonomi dan penciptaan kesempatan kerja menjadi salah satu kunci penting dalam penanggulangan masalah pengangguran. Pertumbuhan ekonomi suatu daerah erat kaitannya dengan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan. Semakin besar pendapatan yang diterima suatu daerah secara otomatis akan membuat pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut semakin berkembang. Dengan begitu, peluang terbukanya kesempatan kerja di daerah tersebut akan semakin besar. Namun saat ini terlihat bahwa terjadinya pertumbuhan ekonomi yang tinggi ternyata tanpa disertai kemampuan menyerap tenaga kerja yang besar. Hal ini terlihat dari angka elastisitas kesempatan kerja yang menyatakan hubungan antara persentase laju pertumbuhan kesempatan kerja dengan laju pertumbuhan ekonomi  dari tahun 2000-2004 yang nilainya di bawah 1. Hal ini berarti laju pertumbuhan ekonomi lebih cepat daripada laju pertumbuhan kesempatan kerja, padahal yang diharapkan adalah semakin tinggi pertumbuhan ekonomi maka akan semakin besar kesempatan kerja yang tercipta. *** bersambung...^__^

Maksud hati ingin menulis lebih banyak lagi, namun sepertinya kesempatan masih belum sampai di sana. Tulisan kali ini saya akhirkan sebatas ini dulu, insya Allah saya sambung pada kesempatan yang lain. Semoga yang sedikit ini dapat berguna.

Next, insya Allah akan saya tulis tentang analisis deskriptif kondisi ketenagakerjaan di Indonesia termasuk kaitan antara struktur ketenagakerjaan dengan struktur ekonomi serta pertumbuhan ekonomi di Indonesia. 

Wallahu a'lam bishowab,
Wassalamu'alaikum wr. wb.

Eka Nurdiyanto



Sumber Referensi:
  1. Skripsi Eka Nurdiyanto, "Struktur Ekonomi dan Proyeksi Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral di Indonesia Tahun 2011-2012".
  2. Web "Bersama Dakwah" (http://www.bersamadakwah.com/2012/03/pengangguran-tembus-14-juta-ribuan.html)
  3. Web resmi Badan Pusat Statistik (http://www.bps.go.id/).

 
read more

Sabtu, 28 April 2012

[21] Struktur Ekonomi Indonesia


Gambaran perekonomian suatu negara dapat dilihat melalui beberapa aspek, baik itu dari aspek kinerja perekonomiannya maupun dari aspek strukturnya. Postingan sebelumnya kita telah membahas salah satu cara untuk melihat bagaimana kinerja perekonomian melalui penghitungan pertumbuhan ekonomi. Pada postingan kali ini kita akan mencoba untuk membahas tentang struktur perekonomian, khususnya struktur ekonomi Indonesia.

PDB, Indikator Penting untuk Mengukur Perekonomian Negara
Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan salah satu indikator yang banyak digunakan peneliti untuk menganalisis keadaan makro ekonomi. Data PDB memiliki peran yang cukup penting dalam menganalisis suatu permasalahan makro ekonomi sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan. Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, diantara kegunaan data PDB antara lain adalah untuk menentukan laju pertumbuhan ekonomi dan struktur ekonomi. Selain itu, dari data PDB ini juga dapat diturunkan menjadi beberapa indikator ekonomi lainnya. Sebelum kita membahasnya secara lebih detail, mari kita bahas tentang PDB itu sendiri, bagaimana pendekatan penghitungannya dan cara menghitungnya.

Penghitungan PDB dilakukan dengan 3 pendekatan, yaitu: 

1.  Pendekatan Produksi
PDB adalah jumlah nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Unit-unit produksi tersebut dikelompokkan menjadi 9 sektor, yaitu :
        - Pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan,
        - Penrtambangan dan penggalian,
        - Industri pengolahan,
        - Listrik, gas dan air bersih,
        - Konstruksi,
        - Perdagangan, hotel, dan restoran,
        - Pengangkutan dan komunikasi,
        - Keuangan, real estate dan jasa perusahaan,
        - Jasa – jasa termasuk jasa pelayanan pemerintah,

2.  Pendekatan Pendapatan
PDB merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor – faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu negara dalam jangka waktu tertentu. Balas jasa faktor produksi yang dimaksud adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan, semuanya sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya. PDB mencakup juga penyusutan dan pajak tidak langsung neto (pajak tak langsung dikurangi subsidi).

3.  Pendekatan Pengeluaran/Penggunaan
PDB adalah semua komponen permintaan akhir yang terdiri dari :
        - Pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta (PC).
        - Pengeluaran konsumsi pemerintah (GC).
        - Pembentukan modal tetap (TCF).
        - Perubahan inventori/stok (S).
        - Ekspor neto (ekspor (EX) dikurangi impor (IM)).

Dalam persamaan matematis dapat dituliskan sebagai berikut :

Y = PC + GC + TCF + S + (EX-IM)

Secara konsep ketiga pendekatan tersebut akan menghasilkan hasil yang sama. Jadi jumlah pengeluaran akan sama dengan jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan dan harus sama pula dengan jumlah pendapatan untuk faktor-faktor produksi. Dari data PDB yang ada, juga dapat diturunkan beberapa indikator ekonomi lainnya, antara lain Produk Nasional Bruto (PNB), Produk Nasional Neto atas dasar harga pasar dan atas dasar biaya faktor biaya produksi serta indikator angka-angka per kapita.  

Struktur Ekonomi Indonesia, Analisis Deskriptif
Struktur ekonomi dapat diartikan sebagai komposisi peranan masing-masing sektor dalam perekonomian baik menurut lapangan usaha maupun pembagian sektoral ke dalam sektor primer, sekunder dan tersier. Gambaran kondisi struktur ekonomi Indonesia dapat dilihat melalui kontribusi setiap sektor ekonomi terhadap pembentukan PDB. Struktur ekonomi dikatakan berubah apabila kontribusi/pangsa PDB dari sektor ekonomi yang mulanya dominan digantikan oleh sektor ekonomi lain. 

Dalam analisis deskriptif ini, kita akan melihat bagaimana kondisi struktur ekonomi Indonesia dari tahun 1983 sampai 2010. Untuk memudahkan analisis, sektor-sektor dalam perekonomian akan dikelompokan menjadi 3 sektor yaitu sektor primer, sekunder dan tersier. Sektor primer merupakan gabungan dari sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan dan sektor pertambangan dan penggalian. Sektor sekunder merupakan gabungan dari sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air dan sektor konstruksi. Sedangkan sektor tersier merupakan gabungan dari sektor perdagangan, hotel, restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan serta sektor jasa-jasa.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berlangsung secara berkesinambungan pada periode sebelum krisis ekonomi (pertumbuhan tidak pernah berada di bawah 6,40 persen) dan semakin meningkatnya tingkat kesejahteraan masyarakat secara agregat, ternyata memberi kemajuan yang cukup berarti terhadap perubahan struktur ekonomi Indonesia. Perubahan struktur ekonomi ini terlihat dari perubahan komposisi sektor ekonomi atas kontribusinya terhadap PDB dalam jangka waktu tahun 1983-2010.
Perubahan Struktur Ekonomi Indonesia Tahun 1983-2010

Dilihat dari lapangan usaha utama, kontribusi sektor primer  terhadap PDB pada tahun 1983 adalah sebesar 43,64 persen dan pada tahun 2010 tinggal 26,49 persen. Sementara itu, kontribusi sektor sekunder yang semula hanya sebesar 19,08 persen pada tahun 1983 menjadi sekitar 35,89 persen pada tahun 2010. Sedangkan sektor tersier mengalami perubahan yang relatif konstan, kontribusi sektor ini terhadap PDB pada tahun 1983 sebesar 37,29 persen dan pada tahun 2010 sebesar 37,62 persen, tidak jauh berbeda dengan tahun 1983. Hal ini menunjukkan telah terjadi transformasi perekonomian atau perubahan struktur ekonomi Indonesia yang ditandai dengan semakin menurunnya peran sektor primer  dalam sumbangannya terhadap PDB dan semakin meningkatnya peran sektor nonprimer.

Terlihat bahwa telah terjadi perubahan pada struktur ekonomi Indonesia. Hal ini terlihat dari semakin menurunnya pangsa sektor primer dan semakin meningkatnya pangsa sektor nonprimer terhadap PDB dari periode 1983-2010. Perkembangan kontribusi sektor ekonomi terhadap PDB pada periode sebelum krisis ekonomi (1983-1996) menunjukkan bahwa dominasi produk yang dihasilkan perekonomian Indonesia mulai bergeser dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier.

Pada tahun 1983 pangsa sektor primer masih cukup tinggi dibandingkan sektor lainnya, yaitu sebesar 43,64 persen, sedangkan sektor sekunder sebesar 19,08 persen dan sektor tersier sebesar 37,29 persen. Pangsa sektor primer terhadap PDB kemudian berangsur-angsur turun hingga hanya sebesar 25,33 persen pada tahun 1996, sedangkan sektor sekunder justru terus mengalami peningkatan. Pangsa sektor sekunder terhadap PDB pada tahun 1996 menjadi 34,80 persen, meningkat 15,72 persen dari tahun 1983. Sektor tersier mengalami perkembangan yang relatif konstan selama periode 1983-1996. Selama periode tersebut tercatat pangsa sektor tersier terhadap PDB berkisar pada angka 37,29 persen sampai 42,44 persen.

Pada periode terjadinya krisis ekonomi (tahun 1997-1999) struktur perekonomian Indonesia relatif tidak mengalami perubahan yang berarti, kecuali sektor pertanian. Pada tahun 1997, sektor primer memiliki pangsa sebesar 24,94 persen terhadap PDB dan meningkat cukup besar pada tahun 1998 menjadi 30,67 persen dan kemudian turun kembali menjadi 29,61 persen pada tahun 1999. Pangsa sektor sekunder terhadap PDB pada periode tersebut tidak mengalami perubahan yang berarti, pangsa sektor ini sebesar 35,48 persen pada tahun 1997, 32,64 persen pada tahun 1998 dan meningkat menjadi 33,36 persen pada tahun 1999. Sedangkan sektor tersier memiliki pangsa terhadap PDB berkisar antara 36,69 persen sampai 39,58 persen selama periode krisis ekonomi ini.

Setelah melewati krisis ekonomi, perubahan struktur Indonesia terlihat dari semakin menurunnya pangsa sektor primer dari tahun 2000 sampai 2004. Pangsa sektor primer terus mengalami penurunan dari 27,67 persen pada tahun 2000 menjadi 23,28 persen pada tahun 2004. Pada periode yang sama, pangsa sektor sekunder terhadap PDB justru cenderung mengalami peningkatan dari 33,86 persen pada tahun 2000 menjadi 35,69 persen pada tahun 2004, walaupun pada tahun 2003 sempat mengalami penurunan sebesar 0,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pangsa sektor tersier pada tahun 2000-2004 tidak mengalami perubahan yang cukup berarti, pada tahun 2000-2001 pangsa sektor ini mengalami penurunan, namun pada tahun 2002-2003 mengalami kenaikan. Pada tahun 2003 pangsa sektor tersier adalah sebesar  41,07 persen, meningkat 1,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan turun 0,03 persen pada tahun 2004.

Selama tahun 2005-2010, sektor yang terlihat cenderung meningkat pangsanya terhadap PDB adalah sektor primer. Pangsa sektor primer pada tahun 2010 adalah sebesar 26,49 persen, meningkat jika dibandingkan tahun 2005 yang memiliki pangsa sebesar 24,27 persen saat itu. Pada tahun 2008-2010 sektor sekunder dan tersier terlihat memiliki pangsa yang relatif mirip terhadap PDB yaitu berkisar antara 35,89 persen sampai 37,62 persen. Namun, secara umum pangsa sektor primer masih tetap berada di bawah pangsa sektor sekunder dan tersier.  

Jika kita lihat dari hasil analisis deskriptif di atas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa telah terjadi perubahan struktur ekonomi di Indonesia selama tahun 1983-2010. Sejak tahun 1985, peran sektor primer telah digeser oleh sektor tersier, kemudian pada tahun 1993 sektor primer kembali digeser oleh sektor sekunder. Pada tahun 2009 sektor sekunder merupakan sektor yang memiliki peran paling besar terhadap PDB, namun pada tahun 2010 kembali digeser oleh sektor tersier. Sampai tahun 2010 peran sektor primer masih berada di bawah sektor tersier dan sekunder. Hal ini menunjukan bahwa proses transformasi struktur ekonomi Indonesia telah menuju ke arah industrialisasi, dimana peran sektor primer mulai digantikan oleh peran sektor lainnya, terutama sektor sekunder yang mengalami peningkatan kontribusi cukup besar dan signifikan hampir di tiap tahun dibanding sektor lainnya.

-Eka Nurdiyanto-


Sumber Referensi:
  1. Skripsi Eka Nurdiyanto, "Struktur Ekonomi dan Proyeksi Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral di Indonesia Tahun 2011-2012".
  2. Web resmi Badan Pusat Statistik (http://www.bps.go.id/).
  3. Wikipedia (http://id.wikipedia.org/).
  4. Web resmi Pemerintah Kabupaten Bima (www.bimakab.go.id/).
read more

Kamis, 12 April 2012

[18] Pertumbuhan Ekonomi Indonesia


Berbicara masalah ekonomi dari sisi makro merupakan suatu hal yang menarik untuk dibahas dan dikaji. Menjadi menarik karena banyak pihak, baik secara individu maupun kelompok memperhatikan masalah makroekonomi ini.  Makroekonomi menjelaskan perubahan ekonomi yang memengaruhi banyak rumah tangga, perusahaan, dan pasar. Ekonomi makro dapat digunakan untuk menganalisis cara terbaik untuk memengaruhi target-target kebijaksanaan dalam suatu negara, seperti pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, tenaga kerja dan kebijakan dalam sisi lainnya. Pada tulisan kali ini akan kita bahas mengenai salah satu indikator dalam ekonomi makro suatu negara yaitu pertumbuhan ekonomi. 

Pertumbuhan Ekonomi, Definisi dan Metode Penghitungan
Terdapat beberapa indikator ekonomi yang dapat digunakan untuk mengetahui kondisi perekonomian suatu negara. Salah satu indikator yang sering digunakan adalah data PDB (Produk Domestik Bruto). BPS mendefinisikan PDB sebagai jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu negara tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. Data PDB yang dipublikasikan terdiri dari data PDB atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan. PDB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada setiap tahun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai dasar.

PDB atas dasar harga berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi suatu negara, sedangkan PDB atas dasar harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan sebagai proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang, atau dapat juga diartikan sebagai kenaikan output total (PDB) dalam jangka panjang tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih kecil atau lebih besar dari pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan ekonomi ini sering dijadikan salah satu ukuran kinerja perekonomian suatu negara. Semakin tinggi nilai pertumbuhan ekonomi bisa dikatakan kinerja perekonomian semakin membaik. 

Data PDB atas dasar harga kostan yang dikeluarkan oleh BPS  menggunakan beberapa tahun dasar, yaitu 1983, 1993 dan 2000. Sehingga kita harus menyamakan tahun dasar terlebih dahulu jika ingin melihat  pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun. Saat ini tahun dasar yang digunakan BPS adalah tahun 2000, maka kita samakan tahun dasarnya menjadi tahun 2000 agar lebih mudah dan lebih representatif dengan keadaan ekonomi saat ini. Penyamaan tahun dasar 1983 dan 1993 menjadi tahun dasar 2000 ini disebut backcasting. Perubahan tahun dasar (backcasting) dapat dilakukan dengan rumus sebagai berikut:

  • Backcasting PDB tahunan yang memiliki tahun dasar 1983 menjadi tahun dasar 1993 dan dimulai dari PDB tahun 1993 tahun dasar 1983. 
 
          dimana:
  •  Backcasting PDB tahunan yang memiliki tahun dasar 1993 menjadi tahun dasar 2000 dan dimulai dari PDB tahun 2000 tahun dasar 1993.  
 
          dimana:
  
Dalam rumus di atas i didefinisikan sebagai periode tahun yang akan dirubah tahun dasarnya, rumus di atas mengambil contoh periode yang akan dirubah adalah dari tahun 1984 sampai 2000 sehingga i ditulis 1984-2000.

Setelah data PDB atas dasar harga konstan memiliki tahun dasar yang sama untuk setiap tahun yang akan dianalisis, maka kita dapat mencari besarnya nilai pertumbuhan ekonomi setiap tahunnya dengan rumus sebagai berikut:


         dimana:
Analisis Deskriptif, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 1986-2010
Jika kita lakukan sebuah analisis deskriptif tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia dari tahun 1986-2010 maka kita akan melihat laju pertumbuhan ekonomi yang cukup berfluktuatif. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada beberapa tahun menunjukan peningkatan dan pada tahun-tahun lainnya mengalami penurunan.



Secara umum perekonomian Indonesia pada periode sebelum krisis ekonomi (1986-1996) mengalami pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi, yaitu antara 6,47 sampai 9,12 persen per tahun dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut sebesar 7,76 persen. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 1991, yaitu sebesar 9,11 persen menjadi pertumbuhan tertinggi yang pernah dimiliki Indonesia.

Pada saat krisis ekonomi melanda negeri ini (1997-1999), perekonomian Indonesia memiliki rata-rata pertumbuhan ekonomi yang sangat rendah yaitu sekitar -2,68 persen. Pertumbuhan ekonomi paling rendah terjadi pada tahun 1998, dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia pada saat itu adalah -13,24 persen dan menjadi pertumbuhan terendah yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Perlambatan pertumbuhan ekonomi ini sebenarnya sudah mulai terjadi pada tahun 1997, pertumbuhan ekonomi saat itu sebesar 4,59 persen, turun sebesar 3,19 persen dari tahun sebelumnya. Kemudian pada tahun 1998 pertumbuhan ekonomi Indonesia turun lebih besar lagi akibat adanya krisis ekonomi, yaitu turun sampai 8,65 persen dari tahun sebelumnya. Pada tahun 1999 perekonomian Indonesia mulai membaik, hal ini terlihat dari angka pertumbuhan ekonomi yang berhasil naik 12,63 persen dari pertumbuhan tahun 1998.

Pada periode pemulihan setelah krisis ekonomi (2000-2007) pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali naik, yaitu sebesar 3,83 sampai 6,35 persen dengan rata-rata pertumbuhan pada periode tersebut sekitar 5,04 persen. Pada tahun 2008 perekonomian dunia diguncangkan dengan adanya krisis global, namun adanya krisis global ini ternyata tidak terlalu berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak mengalami penurunan yang cukup berarti seperti saat periode krisis ekonomi, pada tahun 2008 pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 6,01 persen, turun 0,33 persen dibandingkan pertumbuhan pada tahun 2007.  

Dampak adanya krisis global ini justru baru dirasakan pada tahun 2009. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009 ternyata mengalami penurunan yang lebih besar jika dibandingkan dengan penurunan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008. Pada tahun 2009 pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 4,58 persen, jika dibandingkan tahun 2008 pertumbuhan ekonomi tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 1,44 persen. Pada tahun 2010 kondisi perekonomian Indonesia kembali menunjukkan kondisi yang cukup baik, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2010 tumbuh 6,1 persen, meningkat dibandingkan tahun 2009 dan mampu lebih tinggi dari tahun 2008. 

Melihat kinerja dan stabilitas perekonomian yang cukup bagus pada tahun 2010 memberikan suatu harapan bahwa di tahun selanjutnya pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu bertahan dan mengalami peningkatan.
(Eka Nurdiyanto).


Tambahan...^^
Berhubung ada beberapa teman yang menanyakan contoh penghitungan penyamaan tahun dasar PDB ke email dan fb saya, maka saya buatkan contoh penghitungan penyamaan tahun dasar PDB biar lebih mudah dalam mengaplikasikan rumus di atas. File contoh penghitungan penyamaan tahun dasar PDB ini dapat teman-teman download di menu "Download" pada blog ini, silahkan klik menu "Download" - "Ekonomi" - "Contoh Penyamaan Tahun Dasar PDB". Insya Allah, tinggal klik aja langsung bisa di download. Semoga bermanfaat... : )


Sumber Referensi:
  1. Skripsi Eka Nurdiyanto, "Struktur Ekonomi dan Proyeksi Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral di Indonesia Tahun 2011-2012".
  2. Web resmi Badan Pusat Statistik (http://www.bps.go.id/).
  3. Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_makro).

read more

Selasa, 29 November 2011

[8] Bonus Demografi, antara Kesempatan Emas atau Bumerang Pembangunan Indonesia

Bonus demografi, sebuah peluang besar bagi suatu Negara untuk melakukan percepatan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi akan dialami oleh Indonesia pada tahun 2020-2030. Peluang besar yang terjadi sekali dalam seumur hidup bangsa Indonesia ini merupakan suatu kesempatan emas untuk dapat menggenjot produktivitas dan pertumbuhan ekonomi sehingga pencapaian kesejahteraan akan semakin cepat didapat. Pada periode itu proporsi anak berusia kurang dari 15 tahun terus berkurang dibandingkan dengan penduduk usia kerja, lebih dari 15 tahun. Dengan kata lain proporsi penduduk usia kerja jauh lebih besar dibandingkan proporsi penduduk bukan usia kerja.

Semakin besarnya proporsi penduduk usia produktif ini menyebabkan jumlah tanggungan semakin kecil. Pada periode 2020-2030, sebanyak 100 pekerja hanya menanggung 44 anak. Jumlah tanggungan itu lebih sedikit dibandingkan tahun 2010 dimana 100 pekerja menanggung 51 anak dan jauh lebih kecil dari tahun 1971 dimana 100 pekerja menanggung 86 anak (Kompas, 25 November 2011). Hal ini berarti pada periode 2020-2030 Indonesia memiliki kesempatan besar untuk memacu produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.

Adanya kesempatan emas ini memang memberikan angin segar bagi Indonesia dalam mencapai tujuan pembangunannya. Semakin banyak penduduk usia kerja yang ada berarti semakin banyak pula jumlah tenaga kerja yang tersedia dalam proses produksi. Dengan demikian, tenaga kerja sebagai salah satu faktor produksi yang sangat penting bukan menjadi kendala lagi dalam proses produksi. Sehingga pada akhirnya diharapkan produktivitas yang dihasilkan akan semakin meningkat sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pencapaian kesejahteraan untuk masyarakat semakin cepat tercapai.

Namun demikian, apakah kesempatan bonus demografi ini mampu dimanfaatkan secara baik oleh Indonesia atau malah akan menjadi bumerang yang merugikan Indonesia sendiri? Pertanyaan ini memang masih layak dipertanyakan, pasalnya sampai dengan tahun 2010 ini dari 116,5 juta orang yang tergolong angkatan kerja ternyata 8,3 juta (7,14%) diantaranya masih menganggur. Hal ini menunjukan bahwa penciptaan lapangan kerja di Indonesia sampai saat ini masih belum mampu menyerap seluruh angkatan kerja yang ada. Jika pada periode 2020-2030 penciptaan lapangan kerja yang ada masih seperti saat ini maka bonus demografi yang terjadi justru akan menjadi masalah pembangunan karena akan meningkatkan jumlah pengangguran.

Selain itu, kualitas penduduk yang berada pada usia produktif tersebut juga merupakan salah satu poin penting yang harus dipikirkan. Apa jadinya jika sebagian besar penduduk usia produktif yang diperkirakan mencapai 167 juta jiwa pada tahun 2025 berpendidikan rendah atau tak lulus pendidikan tingkat menengah? Peluang emas dari bonus demografi ini pun akan gagal dimanfaatkan. Sebagian besar penduduk produktif itu hanya akan bekerja pada sektor informal dan tak mampu mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Padahal pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan salah satu kunci dalam menciptakan tersedianya lapangan kerja.

Melihat hal ini maka peran pemerintah sangat diperlukan dalam mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kesempatan bonus demografi ini. Jangan sampai kesempatan emas ini berlalu begitu saja tanpa ada perubahan baik yang terjadi, dan jangan sampai kesempatan emas ini malah menjadi sesuatu yang bakal merugikan Indonesia sendiri. Rumusan-rumusan kebijakan yang tepat dan matang sangat diperlukan sehingga pada saatnya nanti kesempatan emas ini dapat dimanfaatkan dengan baik bukan malah menjadi bumerang yang menyerang diri sendiri.
read more