Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Maret 2013

[36] Sholat Jama'ah Yuks!


Semangat...semangaat...semangaaaat...!
Hehee, lagi pingin teriak dikit nih. Kaya nya udah lama ga bisa teriak-teriak sekenceng-kencengnya kaya di Ancol dulu, apalagi sekarang Ancol dah nun jauh di sana (kebiasaan sering nriaki laut Ancol dulu).  

Kayanya memang sudah menjadi sifat semangat ya, kadang dia bagus banget tapi tak jarang juga dia mlempem. Dan saya pikir itu mencakup untuk banyak hal, termasuk semangat dalam beribadah kepada Allah Swt. Jadi ceritanya gini kenapa tiba-tiba jadi ngomongin tentang semangat. Tadi sore lepas pulang dari kantor saya coba-coba nasehatin adik saya tercinta di rumah sana via chat FB. Dia lagi galau sebentar lagi mau ujian kelulusan SMP. Nah, inti nya saya nasehatin dia biar terus semangat ibadah. "Sholat jama'ah jangan sampe bolong ya!" (adik saya laki-laki). Karena, kuncinya semakin baik hubungan kita dengan Allah maka Allah akan mempermudah semua urusan kita. 

Setelah banyak kasih saran ma nasehat sana-sini biar dia tambah semangat ibadah ma belajar berakhirlah chatingan kami. Dalam hati saya, enak betul ya, ngasih nasehat ke orang lain biar jangan sampe bolong sholat jama'ahnya, berasa diri ini sudah ga pernah ketinggalan sholat jama'ah aja. Enak emang ngasih nasehat ke orang lain padahal justru yang butuh banyak nasehat adalah diri sendiri. Alhasil jadi kepecut sendiri, masa ngasih nasehat kaya gitu ke orang lain tapi sendirinya ga sempurna nglakuinnya. Jadi malu sendiri.

Ngomongin tentang sholat jama'ah, berarti kita sedang ngomongin salah satu ibadah agung yang seharusnya menjadi perhatian kita (khususnya kaum laki). Namun jika kita lihat dari kenyataan yang ada, saat ini semakin banyak kaum laki yang terlihat mulai meninggalkannya.Tengoklah di serambi Madinah (Gorontalo) ini, tempat saya berlabuh sekarang. Di sini sangat banyak masjid, sangat mudah sekali menemukan masjid untuk sholat, karena memang 96,82 persen penduduk Gorontalo beragama Islam (Gorontalo Dalam Angka 2011, BPS) namun, banyaknya orang yang sholat jama'ah di dalamnya tidak sebanyak masjid yang berdiri di sini (my opinion). Di masjid dekat kos saya misalnya dari sholat 5 waktu, jumlah orang (laki) paling banyak tiap harinya yang sholat jama'ah hanya sekitar 7 orang. Tak jarang saya temui muadzinnya merangkap sebagai imam sekaligus makmum.

Padahal, sangat banyak keutamaan yang ada di balik ibadah satu ini. Biar semangat sholat jama'ah, yuk mari kita tengok ada apa di balik ibadah yang satu ini.

Dari Ibnu Umar r.a bahwa Rasulullah saw. bersabda, ”Shalat jama’ah melebihi shalat sendirian dengan (pahala) dua puluh tujuh derajat.” (Muttafaqun ‘alaih Fathul Bari II: 131 no: 645, Muslim I: 450 no: 650, Tirmidzi I: 138 no: 215, Nasa’i II no: 103 dan Ibnu Majah I: 259 no: 789). Pilih mana, satu atau dua puluh tujuh derajat?

Dari Abu Hurairah r.a dan Nabi saw. bersabda, “Barang siapa berangkat sore dan pagi ke masjid (untuk shalat jama’ah), niscaya Allah menyediakan baginya tempat tinggal di surga setiap kali ia berangkat sore dan pagi (ke masjid).” (Muttafaqun ‘Alaih: Fathul Bari II: 148 no: 662 dan Muslim I : 463 no: 669). Sholat subuh berjama'ah menurut saya memiliki tantangan terberat, pagi-pagi lagi enaknya tidur tapi harus bangun dan keluar rumah ke masjid. Tapi tengoklah apa yang ada di baliknya. Subhanallah...surga cuy.^^ Yuk mari kita sama-sama berusaha biar ga bolong sholat subuh berjama'ahnya.

Barangsiapa berangkat ke masjid, maka satu langkah menghapus satu keburukan, dan satu langkah ditulis satu kebaikan, di saat pergi dan pulang. (HR. Ahmad, no: 6599, 10/103, dari Abdulloh bin Amr bin Al-Ash, dishohihkan syaikh Ahmad Syakir). Nah, mantapkan...kalo rumah kita jauh dari masjid berarti kan semakin banyak keburukan yang ilang trus catatan kebaikan juga nambah. 

Sebenarnya masih sangat banyak yang bisa kita dapat dari sholat berjama'ah. Yang di atas cuma beberapa saja, semoga bisa menaikan semangat kita untuk bisa memakmurkan masjid Allah dengan sholat jama'ah. Intinya semua harus dengan niat yang lurus. Seberapapun banyak kita sholat jama'ah di masjid tapi niat di hati sana masih belum karena Allah maka nilainya akan kecil, bahkan bisa jadi tidak bernilai.

Yuk mari kita sholat jama'ah di masjid. On time...di awal waktu. ^^



Bumi Gorontalo, 15 Maret 2013

        -Eka Nurdiyanto-
read more

Rabu, 07 November 2012

[31] Kembali ke Ikhlas (lagi)


Sepertinya tak akan ada kata henti untuk terus meyakinkan hati ini agar senantiasa tetap ikhlas dalam menjalankan segala amal kebaikan. Karena betapapun banyak usaha, tenaga maupun pikiran selama tidak ikhlas melakukannya, tidak akan ada nilainya di hadapan Allah. Selalu hadir dalam kajian dan taklim tapi kalau hanya ingin disebut sebagai orang sholeh maka itu tidak memiliki nilai apapun. Menyumbangkan seluruh harta jika hanya ingin mendapat gelar dermawan maka itupun tak akan ada nilainya. Membaca Al Qur’an dengan suara indah dan tartil tapi hanya sekedar ingin memamerkan suaranya yang indah dan ilmu tajwid yang dimilikinya dihadapan orang-orang namun bukan Allah yang dituju, maka itu hanya akan menjadi sesuatu yang tidak bernilai di hadapan Allah.

Sumber gambar : Google

Ikhlas terletak di dalam niat hati. Rasulullah SAW telah memberikan rambu-rambu kepada kita agar senantiasa memperhatikan dan menghadirkan niat pada setiap hal yang akan kita lakukan. Amal yang kita lakukan dinilai dari niat yang ada di dalam hati kita, karena itulah niat disebut pengikat amal.  Niat merupakan kunci diterimanya amal kebaikan yang kita lakukan, orang yang tidak pernah memperhatikan niat dalam hatinya berarti ia telah bersiap untuk membuang waktu, tenaga, pikiran maupun hartanya dengan percuma, tanpa arti.

Lalu, apa sebenarnya ikhlas itu? Imam Ali mengatakan bahwa orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amal yang dilakukan diterima oleh Allah. Konsentrasi orang yang ikhlas cuma satu, yaitu bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah. Ia tidak mengharapkan apapun dari siapapun karena kenikmatan bagi orang yang ikhlas bukan dari mendapatkan, tapi dari apa yang bisa dipersembahkan. Keikhlasan menjadi sesuatu yang amat berharga nilainya, ia adalah obat bagi jiwa yang merindukan ketentraman dan hati yang merindukan ketenangan. Jiwa seorang yang ikhlas adalah jiwa yang tentram, hati orang yang ikhlas adalah hati yang tenang, hidupnya menjadi indah, mudah dan penuh makna. Ia tidak terjebak pada harapan-harapan akan imbalan, pujian maupun penghargaan dari orang, sehingga yang ia rasakan adalah ketenangan dan kepuasan dalam hidup. Inilah buah dari keikhlasan yang bisa didapat oleh orang yang mampu melakukannya. Mampu menjaga niat hati agar selalu ikhlas karena Allah.

Semoga kita senantiasa menjadi seorang hamba yang memperhatikan niat hati kita. Menjadikan niat kita penuh keikhlasan karena Allah, baik itu diawal, tengah maupun akhir semua amal kita. Allah lah pemilik hati kita, Allah Maha Tahu segala isi dalam hati kita. Semoga Allah mengaruniakan kepada kita hati yang senantiasa ikhlas. Yang mampu memberikan kekuatan sehingga tidak kalah oleh harapan akan pujian dan penghargaan semata. Allaahu Akbar!

read more

Jumat, 13 Juli 2012

[26] Tarhib Ramadhan...^__^


Baru sadar ternyata hari ini sudah sampai di hari ke 23 dalam bulan sya'ban 1433 H (cape deeh, kemana aja slama ini?? -,-). Kalo dihitung mundur, berarti hanya tinggal menghitung jari kita akan sampai di bulan Ramadhan Mubarak. Subhanallah...cepat betul rasanya waktu itu berlalu, semoga kita tergolong ke dalam golongan orang-orang yang memperhatikan waktu...aamiin. Nah, mumpung masih ada di bulan sya'ban berarti masih ada waktu buat kita untuk menyiapkan diri sebaik-baiknya dalam menyambut Ramadhan tahun ini. Jangan sampai Ramadhan tahun ini berlalu begitu saja tanpa ada peningkatan amal kebaikan dari Ramadhan sebelumnya. Fightiing!  \(^.^)/
 

Tidak sedikit kaum muslimin yang menyambut dan menyongsong datangnya bulan Ramadhan dari tahun ke tahun hanya dengan bermodalkan semangat dan tradisi saja. Maka hasilnya, syiar dan ibadah yang dilakukan hanya sebatas "kemarakan" yang bisa bertahan hanya pada hari-hari awal di bulan Ramadhan. Minimnya persiapan dan ketidakmatangan (bahkan ketiadaan) program yang berorientasi pada amaliyah (praktek) menjadi salah satu penyebab fenomena di atas. Sering kita jumpai pada hari pertama Ramadhan sangat banyak kaum muslimin yang berbondong-bondong datang ke masjid untuk melaksanakan sholat tarawih, bahkan sampai banyak yang rela sholat di pelataran masjid karena tidak kebagian tempat di dalam masjid. Namun, selang satu minggu setelahnya justru shaf sholat tarawih semakin maju ke depan karena perlahan tapi pasti kaum muslimin mulai berguguran tidak lagi ikut sholat tarawih di masjid. Bagaimana dengan minggu-minggu setelahnya? Hemm...sudah bisa ditebak, shaf-nya tambah semakin maju ke depan.

So, apa yang sebaiknya kita lakukan untuk menyambut Ramadhan Mubarak yang akan segera datang? Sikap dan persiapan seperti apa yang sebaiknya kita lakukan agar kita tetap semangat dan istiqomah beribadah selama Ramadhan? Ada beberapa sikap sekaligus kiat para salafus shaleh ketika menyambut datangnya bulan Ramadhan. Diantara sikap dan kiat tersebut antara lain:

  • Senang dan Gembira; senang dan gembira adalah sikap seorang muslim menyambut segala bentuk kebaikan termasuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan merupakan bulan bonus buat kita, bulan penuh keberkahan dan kebaikan. Pahala dilipatgandakan, dosa diampuni dan do'a dikabulkan. Rasulullah SAW bersabda, "Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan yang penuh berkah, pada bulan itu Allah swt memberikan naungan-Nya kepada kalian. Dia turunkan rahmat-Nya, Dia hapuskan kesalahan-kesalahan (dosa-dosa), dan dia kabulkan do`a, pada bulan itu Allah swt akan melihat kalian berpacu melakukan kebaikan. Para malaikat berbangga dengan kalian, dan perlihatkanlah kebaikan diri kalian kepada Allah. Sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang pada bulan itu tidak mendapat Rahmat Allah SWT ”. (Riwayat Ath-Thabrani). So, menjadi aneh kalo akan datang kesempatan emas seperti ini tapi kita tidak senang dan gembira menyambutnya.   

  • Berdo'a; berdo'a agar Allah SWT mempertemukan kita dengan Ramadhan kali ini dalam keadaan sehat wal afiat, sehingga nantinya kita dapat mengisi hari demi hari selama Ramadhan dengan amaliyah yang bermanfaat dunia-akhirat, tidak terputus ataupun melemah di tengah Ramadhan. Pada saat seperti sekarang maka kita perbanyak memanjatkan do'a agar bisa dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan tahun ini. Kesempatan mengumpulkan amal kebaikan masih dibuka bagi kita yang masih diberikan pinjaman nyawa oleh Allah SWT, tidak sedikit teman ataupun keluarga disamping kita yang telah dipanggil oleh Allah SWT padahal Ramadhan tahun lalu masih bersama kita. Semoga Allah SWT masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan bulan Ramadhan di tahun ini. "Ya Allah, pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan".    

  • Menambah Ilmu tentang "Ramadhaniyat" (Hal-hal yang berkaitan dengan amaliyah Ramadhan);  Membaca kembali buku-buku terkait dengan aktifitas dan ibadah Ramadhan ataupun mengikuti kajian-kajian yang membahas tentang Ramadhan merupakan salah satu langkah persiapan yang sebaiknya dilakukan dalam menyambut datangnya bulan Ramadahan. Hal ini dilakukan sebagai salah satu ikhtiar kita agar dapat meraih hasil yang optimal dan maksimal selama Ramadhan. Diantara hal-hal yang perlu dibaca dan dipelajari sebagai persiapan menyambut Ramadhan antara lain sebagai berikut: (1) Fiqhus Shiyam (pengetahuan tentang ibadah puasa); (2) Fiqush Shalat (pengetahuan tentang sholat); (3) Fiquz Zakat (pengetahuan tentang zakat); (4) Fiqul Qur'an (pengetahuan tentang Al Qur'an); (5) Fiqul I'tikaf (pengetahuan tentang I'tikaf). 

  • Perencanaan dan Persiapan; Segala sesuatu jika disiapkan dan direncanakan dengan baik maka dengan seijin Allah pasti hasilnya akan baik pula, termasuk dalam beramal di bulan Ramadhan ini. Perencanaan program amaliyah yaumiyah dan target pencapaiannya selama Ramadhan perlu dibuat dengan serapi mungkin, mudah diingat dan tidak terlalu memberatkan. Yang terpenting dari semua itu adalah sikap istiqomah untuk mau menjalankan program yang telah dibuat. Sebagai contoh diantara perencanaan yang perlu disiapkan dan target pencapaiannya antara lain: berapa kali akan mengkhatamkan Qur'an selama Ramadhan, berapa banyak buku yang akan dibaca selama Ramadhan, di masjid mana akan melakukan i'tikaf, penentuan target minimal amaliyah yaumiyah seperti berapa kali sholat jamaah di masjid, berapa kali sholat sunah duha, qiyamul lail, sholat rowatib, mengikuti kajian, de el el. Insya Allah jika kita sudah menyiapkan program amaliyah dengan rapi maka ketika menjalani ibadah puasa di Bulan Ramadhan nanti akan lebih terarah dan tertata kegiatannya, tidak banyak membuang waktu dengan percuma. Termasuk yang perlu disiapkan selama Ramadhan adalah dari sisi finansial. Persiapan keuangan yang baik menjelang Ramadhan sangat diperlukan agar kita bisa lebih konsen beribadah. Sehingga fokus kita selama Ramadhan lebih ke arah ibadah, tidak disibukan untuk mencari uang. Menyisihkan pendapatan kita yang sebelas bulan untuk tabungan khusus yang digunakan selama Ramadhan menjadi salah satu solusi dalam mempersiapkan diri dari sisi finansial.

Ramadhan adalah bulan yang suci, yang penuh keberkahan dan kebaikan di dalamnya, sehingga sangat sayang jika kesempatan yang datang sekali selama 12 bulan ini berlalu begitu saja. Jika pada bulan selainnya, tilawah kita hanya bisa sekali khatam dalam sebulan, maka dibulan yang pahalanya berlipat-lipat ganda ini seharusnya tilawah kita lebih dari itu, termasuk amal ibadah yang lainnya seharusnya lebih dan lebih lagi dari yang dilakukan pada bulan selain Ramadhan. Tidak kemudian terlena untuk bermalas-malasan dengan alasan lemas karena puasa seharian yang akhirnya malah lebih memilih untuk memperbanyak tidur siang.

Semoga Allah masih memberi kita kesempatan menikmati indahnya Ramadhan di tahun ini. Mari kita siapkan diri sebaik-baiknya, melakukan amal ibadah semaksimal mungkin kita bisa dan selalu mengharap keridhoan dari Nya. Ramadhan kali ini sudah berbeda...^_^, semoga semangat beribadah semakin menanjak naik karena sudah ditemani istri tercinta sekarang. Sudah ada teman makan sahur dan buka, asiik...tidak lagi nyari makan sahur dan buka di warung karna sudah ada yang masakin...semoga berkah...aamiin...^___^

"Jika Allah masih berkenan memberi umur kepada kita untuk bertemu dengan Bulan Ramadhan tahun ini, kira-kira apa saja yang akan kita lakukan selama Ramadhan ini?"  Semoga tulisan ini sedikit membantu teman-teman semua khususnya saya pribadi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tidak kemudian diam begitu saja seakan menganggap Ramadhan hanya sebatas rutinitas tahunan yang hanya dilewati begitu saja, datar tanpa ada pencapaian yang hendak diraih, diawal semangat tapi ditengah dan diakhir melemah. Semoga Allah SWT selalu memberikan kita taufik, hidayah dan keberkahan. amiin.

Marhaban ya Ramadhan...^__^

Wallahu a'lam.
Wassalamu'alaikum wr. wb.

Eka Nurdiyanto


Sumber Referensi:
  1. Buku "Tarhib dan Amaliah Ramadhan", karya M. Ridwan Yahya. Jakarta. Oktober 2005.
  2. Web Kementrian Agama RI (http://kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=keutamaanbulan ramadhan).
read more

Senin, 30 April 2012

[22] Pengasuhan Anak


"Melahirkan anak yang sholeh dan sholehah".

Masjid Al Arqam, BPS Pusat

Tema ini muncul setelah hampir semua jamaah dhuhur yang duduk di masjid Al Arqam BPS menyatakan sepakat dari dua opsi lain yang diberikan oleh Ustad Muhsinin Fauzi siang tadi. Memang kajian senin kali ini berbeda dengan kajian senin seperti biasanya, karena hari ini adalah senin pekan kelima maka tema yang diangkat adalah tema tematik yang sedang up to date. Baru kali ini juga saya mengikuti kajian dimana tema kajian ditentukan beberapa menit sebelum kajian dimulai. Memang seperti inilah seharusnya seorang ustad itu, memiliki banyak bekal materi untuk disampaikan dan sesuai dengan keadaan yang terjadi saat ini, sehingga mampu membuat orang yang ikut kajian mengerti realitas yang dihadapi umat saat ini.

Dalam kajian ini disampaikan bahwa anak-anak jaman sekarang memiliki tantangan sekaligus karakteristik yang jauh berbeda dengan model anak-anak pada jaman dulu, hal ini membuat pola pengasuhan orang tua ke anak juga harus dibedakan. Beberapa karakteristik yang disebutkan antara lain yang pertama, anak jaman sekarang sangat well terhadap teknologi. Mereka mampu dengan cepat memahami dan menggunakan teknologi yang ada saat ini. Tidak sedikit anak-anak usia sekolah dasar saat ini sudah mahir menggunakan internet, hp maupun BB. Bahkan menurut pengamatan saya di warnet-warnet saat ini yang menjadi pelanggan terbanyak game online adalah anak-anak usia sekolah dasar.

Kedua, pola pemikiran anak saat ini adalah serba instan. Anak jaman sekarang lebih mementingkan hasil dan mengesampingkan proses dalam pencapaian hasil. Mereka tidak lagi melihat bahwa segala sesuatu itu membutuhkan proses, bersikap tidak sabar dan muncul pemikiran untuk melakukan langkah-langkah instan dalam mengerjakan sesuatu yang terkadang langkah itu berada diluar kewajaran seperti yang seharusnya dilakukan.

Ketiga, anak-anak jaman sekarang lebih cepat dewasa, sehingga sulit membedakan masa puber dengan dewasa. Kondisi anak saat ini sangat berbeda jauh dengan kondisi jaman dulu, dimana anak saat ini sudah banyak sekali disuguhi konten-konten dewasa yang belum semestinya diperoleh dari media masa. Ust. Muhsinin memberikan contoh nyata dari salah satu hasil penelitian tentang anak usia 9-10 tahun yang ternyata sudah mampu mengeluarkan sperma karena seringnya mendapat konten-konten dewasa yang semestinya belum didapat. Dari penelitian itu ternyata terungkap fakta bahwa di otak anak terdapat suatu hormon yang mampu merangsang pembentukan sperma yang akan aktif dan bekerja jika sering mendapatkan rangsangan dewasa dari luar. Normalnya sperma akan matang dan keluar setelah berusia 17 tahun.

_gambar diambil dari google
Hal ini merupakan suatu tantangan khusus bagi para orang tua agar mampu memberikan pengasuhan yang tepat sesuai dengan keadaan yang dihadapi saat ini. Mengingat anak merupakan tanggung jawab para orang tua. Orang tualah yang bertanggung jawab mengasuh dan mendidik para anaknya, memberikan pengawasan serta menjaga akidah dan agamanya. Orang tua memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, 

“Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?”

Sayangnya, para orang tua saat ini tidak banyak yang sadar dengan perubahan yang dialami oleh anak jaman sekarang seperti yang dijelaskan dalam ketiga contoh di atas. Masih banyak orang tua yang memberikan pola pengasuhan ke anaknya seperti pola yang diberikan kepada mereka sendiri dulu. Masih banyak yang memberikan pola pengasuhan dengan mementingkan aspek kognitif saja. Yang penting anak pintar, masuk sekolah favorit, bisa kuliah di universitas favorit dan mendapat kerja setelah lulus. Para orang tua masih banyak yang mengabaikan aspek mental dan spiritual anaknya. 

Padahal jika kita lihat tantangan yang dihadapi anak saat ini sungguh sangat jauh dengan jaman dulu. Anak-anak saat ini bisa dibilang sedang mengalami kebanjiran informasi. Berbagai informasi sebagai akibat dari perkembangan teknologi yang sangat cepat membawa dampak tersendiri terhadap penerimaan informasi yang didapat anak-anak. Banyak informasi yang seharusnya belum didapat kemudian sampai ke anak, baik itu tanpa sengaja maupun mereka mencari-cari sendiri karena terpengaruh lingkungan. Sebagai contoh, seperti yang disampaikan Ust Muhsinin adalah terkait pornografi dan pornoaksi. Betapa mirisnya para relawan pemerhati anak yang bertugas ke pelosok Sulawesi, di desa yang sangat terpencil di sana, mereka dapati anak-anak kecil sudah memiliki gambar-gambar porno. Bayangkan saja itu di pelosok Sulawesi, sebuah desa terpencil. Lalu bagaimana dengan anak-anak yang berada di kota-kota besar? Jakarta misalnya. Jika kita berkaca pada data, saat ini para pekerja seks komersial yang berada di salah satu daerah di Jakarta sekitar 70% dari mereka adalah para siswi yang masih duduk di SMP. 

Belum lagi dengan komunitas-komunitas di Jakarta yang notabene terdiri dari anggota anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah. Yang kemudian pada jam-jam tengah malam masih kongkow-kongkow dipinggir jalan. Bukan tidak mungkin mereka juga sudah pernah melakukan free sex. Pola anak sekolah yang berpacaran saat ini sudah menjadi suatu hal yang dipandang biasa oleh masyarakat. Bahkan film-film di televisi yang mempertontonkan adegan pacaran saat ini menjadi tontonan yang banyak diminati kalangan muda. Sehingga pola pemikiran yang terbentuk pada mereka juga menganggap wajar akan hal itu dan tanpa malu-malu melakukannya juga. 

Jika kita tarik suatu benang merah, ternyata karakter anak saat ini tidak lain juga terbentuk dari pengaruh kebanjiran informasi tadi. Proses perkembangan teknologi yang kemudian ikut membentuk karakter anak saat ini. Lalu, semakin banyaknya anak yang memilih teman sebagai tempat keluh kesahnya dibanding ke orang tua sendiri yang pada akhirnya membawa mereka ikut kongkow-kongkow merupakan dampak dari kurangnya kasih sayang dan perhatian yang diberikan oleh orang tua mereka. Sangat sedikitnya waktu yang disediakan oleh orang tua untuk anaknya membuat anak lebih suka bercerita tentang masalahnya ke teman-teman mereka, entah itu ikut dalam komunitas tertentu ataupun melalui media sosial.

Saya belakangan ini juga menemukan kasus seperti ini, saat ini saya mengajar privat beberapa orang anak SMA. Sempat saya diajak diskusi oleh salah seorang ibu dari anak yang saya ajar ini, dia bilang anaknya sekarang sangat susah diatur. Dia mengeluhkan kenapa anak jaman sekarang sangat jauh berbeda dengan masanya. Dia menceritakan kegiatan anaknya yang tiap hari dihabiskan di warnet main game online. Pulang sudah larut malam, itupun tidak langsung tidur setelah di rumah, sampai pagi ia justru habiskan untuk menonton bola. Ketika orang tua nya mencoba menasehati malah hanya timbul pertengkaran diantara mereka. Belajarpun tidak setiap hari dilakukan, alhasil nilai raportnya jadi jeblok, mungkin ini juga salah satu alasan mengundang guru privat.

Kasus semacam ini saya rasa menjadi suatu hal yang sudah tidak asing kita lihat dalam kehidupan sehari-hari saat ini. Bagaimana anak mau mendengarkan apa yang orang tua bilang jika waktu untuk berkumpul dengan mereka saja tidak ada sama sekali. Para orang tua saat ini lebih banyak disibukan dengan pekerjaan mereka dan sangat sedikit waktu untuk berkumpul dengan anak, memberikan perhatian dan kasih sayang kepada mereka. Pagi berangkat kerja, kemudian pulang sudah larut malam, otomatis tidak ada waktu untuk berkumpul dengan anak, apalagi jika istripun ikut bekerja. Dampaknya sang anak akhirnya menjadi tidak bisa diatur karena kurang perhatian dan kasih sayang.

Melihat realitas yang ada seperti ini, Ustd Muhsinin memberikan beberapa langkah yang mesti diperhatikan dan dilakukan oleh orang tua dalam mengasuh anak saat ini. Beberapa hal yang disampaikan oleh ustad antara lain:
  1. Orang tua harus memahami dengan benar kerakteristik anak dan apa yang mereka hadapi sekarang. Mengerti dengan betul bahwa yang dihadapi anak saat ini jauh lebih berat dibandingkan jaman dulu. Hantaman-hantaman informasi dari media masa yang diterima anak merupakan suatu hal yang berpengaruh dalam pembentukan karakter anak. Sehingga para orang tua harus sadar betul dengan keadaan seperti ini, jangan sampai pola pengasuhan yang diberikan tidak sesuai dengan realitas yang ada saat ini.
  2. Pola pengasuhan yang diberikan ke anak harus dirubah, tidak lagi hanya mementingkan aspek kognitif anak, tetapi harus melihat bagaimana sisi mental dan spiritual anak. Pola pengasuhan yang tepat adalah yang berlandaskan pada agama, syariat Islam. Memberikan pendidikan kepada anak dengan dasar tauhid kepada Allah, memberikan contoh bagaimana seharusnya manusia hidup sebagai hamba Allah. Bahwa Allah maha Melihat apa yang kita lakukan, mengajarkan mana yang menjadi kewajiban dan mana yang dilarang.
  3. Memberikan porsi waktu yang cukup untuk anak. Waktu untuk anak harus sesuatu yang menjadi prioritas, bukan waktu sisa kerja. Memberikan kasih sayang yang cukup kepada mereka, sehingga mereka akan merasa nyaman dengan orang tuanya, mau bercerita kepada orang tuanya atas apa yang mereka hadapi. Sehingga anak tidak mencari pelarian untuk melampiaskan keluh kesahnya ke teman atau lainnya.
  4. Memilihkan sekolah dan lingkungan yang tepat untuk anak. Hampir sebagian besar waktu yang dihabiskan anak dalam sehari dihabiskan di sekolah. Sehingga memilihkan sekolah yang tepat untuk anak menjadi suatu yang harus diperhatikan oleh orang tua. Lingkungan sekolah yang baik, yang senantiasa mengajarkan nilai-nilai Islam dalam kegiatan yang dilakukan merupakan suatu pertimbangan dalam memilihkan sekolah. Banyak orang tua yang beranggapan dan menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah. Padahal sekolah pada dasarnya merupakan tempat pengajaran, masalah pendidikan anak masih menjadi tanggungjawab orang tua. Jadi para orang tua masih memiliki kewajiban dalam mendidik anak dirumah.

Anak merupakan masa depan suatu bangsa. Baik buruknya keadaan bangsa kita nantinya akan sangat tergantung dari bagaimana pengasuhan yang dilakukan orang tua kepada mereka. Semoga dengan memperhatikan hal kecil seperti ini mampu memberikan manfaat dalam menyiapkan mereka untuk melanjutkan estafet kepemimpinan nantinya.

Eka Nurdiyanto


Wallahu a'lam bi showab.
Semoga Bermanfaat.
read more

Selasa, 10 April 2012

[17] Mempersiapkan Pernikahan yang Barokah_Menuju Keluarga Qur'ani


Ahad, 8 April ini saya beruntung karena diberi kesempatan untuk bisa menghadiri acara seminar pra nikah Islami yang diselanggarakan oleh APWA (Ar Rahman Pre Wedding Academy). Acara yang mengambil tempat di auditorium Bank Bukopin ini berhasil menyedot banyak peserta, menurut perkiraanku mencapai sekitar 300an orang. Melihat jumlah peserta sebanyak itu mengindikasikan masih banyak kaum muda Islam yang sadar dan peduli untuk bisa menyelenggarakan pernikahan yang Islami dan membentuk keluarga Islam yang barokah berlandaskan syariat Islam. Narasumber yang dihadirkan dalam seminar ini juga tidak nanggung-nanggung, yaitu guru ngaji kita Ust. Bachtiar Nasir dan Dra. Wirianingsih, Bc. Hk, Msi., seorang bunda yang telah melahirkan 10 anak hafidz Qur'an...Subhanallaah.
Pada postingan kali ini Insya Allah akan saya tuliskan beberapa poin-poin materi yang disampaikan dalam seminar tersebut. Semoga bermanfaat... :)

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. " (Q.S. Ar Rum:21)

Cinta, Benih Awal yang Menjadi Misteri dalam Keluarga
Maha Besar Allah yang telah menciptakan rasa kasih dan sayang, yang telah menciptakan manusia berpasang-pasangan, yang telah meniupkan rasa cinta ke setiap kalbu insan. Tak bisa dipungkiri, awal mula dari adanya suatu ikatan keluarga adalah dimulai dari adanya rasa cinta. Ibarat suatu kendaraan, cinta merupakan bahan bakar yang menjamin kendaraan ini mampu tetap bergerak. Membicarakannya memang tidak akan ada habisnya, selalu menarik untuk dibahas, apalagi kalau sedang merasakannya....hemm ^__^

Dalam Islam kita mengenal istilah Mahabbah dan Mawaddah. Kedua kata ini sama-sama memiliki makna cinta. Mahabbah diartikan sebagai rasa cinta yang berlaku umum, cinta kepada apa saja dan siapa saja. Sebagai contoh, ketika kita baru saja melihat atau mengenal seseorang lawan jenis mungkin timbul suatu getaran di dalam hati. Rasa yang aneh, yang kadang memaksa diri untuk mau bersamanya dan memilikinya. Timbul suatu kecenderungan hati kepada yang dicintainya, merasa senang didekatnya dan benci akan kebalikannya. Sedangkan Mawaddah diartikan sebagai cinta plus, mawaddah ini hadir sebagai rasa cinta kepada pasangan ketika diantara pasangan itu sudah ada "klik", persamaan dalam pandangan, tutur dan hati. Dalam suatu pernikahan, sepasang suami istri membutuhkan mawaddah, cinta tanpa pamrih, mencintai walau bagaimanapun keadaannya. 

Menurut teori Stanberg, cinta tersusun dari 3 hal. Teori ini dikenal sebagai "Stanberg's Love Triangle Theory".


Yang pertama adalah Intimacy (Keintiman), ditunjukan dengan adanya keakraban, kedekatan dan kemesraan. Yang kedua adalah Passion (Gairah), ditunjukan dengan adanya semangat, gairah dan keinginan. Yang ketiga adalah Commitment (Komitmen), ditunjukan dengan sikap mau mengikat diri pada sesuatu dengan suatu alasan tertentu. Menurutnya seseorang dikatakan sedang jatuh cinta jika ada salah satu dari ketiga hal di atas dalam dirinya.
  
Intimacy dan Passion akan menghasilkan cinta monyet, Passion dan Commitment akan menghasilkan cinta seperti cinta pada pekerjaan/hobi. True Love baru akan terjadi ketika seseorang memiliki Intimacy, Passion dan Commitment secara bersamaan. Dalam pernikahan, sepasang suami istri harus memiliki ketiga hal ini agar cinta yang dimiliki keduanya adalah benar-benar cinta yang sempurna, sehingga perjalanan pernikahan mereka akan bertahan hingga akhir. Namun sayangnya seiring berjalannya waktu, masing-masing bagian penyusun ini akan melemah. Ketika Intimacy melemah maka dampaknya akan ada miskomunikasi, percekcokan dan perbedaan-perbedaan. Ketika Passion melemah maka akan hilang gairah ketika melihat pasangan. Ketika Commitmen sudah hilang maka yang muncul kemudian adalah perceraian, karena hilangnya rasa saling percaya pada masing-masing pasangan.

Di dalam tubuh kita ternyata juga ada sebuah hormon yang disebut sebagai Hormon Cinta (Endorphin). Hormon ini bekerja ketika kita sedang jatuh cinta. Hormon ini bekerja ketika cinta datang dan memberikan rasa senang, bahagia dan nyaman pada diri kita. Ketika sepasang suami istri baru saja menikah akan merasakan suatu kebahagiaan yang sangat, bisa jadi adalah karena pengaruh dari hormon cinta ini. Membuat hati merasa senang dan bahagia ketika baru saja mendapatkan pasangan hidup. Sayangnya hormon ini hanya mampu bertahan selama 3 tahun saja.

Lalu, bagaimana jika di dalam perjalanan pernikahan kita semua unsur cinta seperti di dalam teori Stanberg tadi melemah dan umur hormon Endorphin telah habis? Masih bisakah kita bahagia di dalam pernikahan kita? Jawabannya adalah BISA. Selama cinta yang kita bangun adalah cinta yang termotivasi karena cinta pada Allah maka tidak perlu khawatir akan efek yang timbul seperti dalam teori Stanberg tadi. Cinta antara suami istri dalam ikatan pernikahan yang dibahanbakari dengan cinta kepada Allah merupakan cinta yang paling sempurna, sebuah cinta sejati. Ia akan mampu bertahan sampai kapanpun karena yakin cinta itu bersumber pada Allah, Dia-lah Al Wadud, yang Maha Pencinta. Dari Allah lah semua rasa cinta datang, dengan memberikan cinta kita kepada Allah maka Allah akan memberikan cinta-Nya pula kepada kita.

Cinta kepada pasangan yang bersumber dari cinta kepada Allah inilah yang seharusnya menjadi dasar dan pondasi dari ikatan pernikahan yang akan dibentuk. Mendahulukan cinta kepada Allah di atas cinta kepada pasangan dan mencintai pasangan karena semata-mata cinta pada Allah. Sebuah dasar yang apabila tertanam kuat sejak awal maka akan menjadikan bahtera pernikahan mampu bertahan dari segala macam hempasan badai sepanjang perjalanan. Mampu membawa pemiliknya menuju persinggahan terakhir di akherat sana, yaitu Jannah-Nya.

Menggapai Pernikahan yang Barokah
Pernikahan merupakan sesuatu yang diingini oleh setiap orang. Suatu ikatan suci yang mampu merubah yang haram menjadi halal, sebuah hubungan saling menguntungkan antara dua insan dalam mencapai kebahagiaan. Sebuah bahtera yang mampu mengarungi samudra luas kehidupan menuju pulau cinta-Nya hingga mampu mencapai pelabuhan Jannah. Sesuatu yang menjadi tujuan hidup setiap insan.

Pernikahan bisa saja dilakukan oleh setiap orang dengan berbagai tujuan. Jangan sampai tujuan melakukan pernikahan hanya untuk memenuhi hasrat akan syahwat dalam diri saja. Karena jika hal ini saja yang menjadikan alasan melakukan pernikahan maka tidak akan berbeda jauh dengan perilaku para hewan.  Pernikahan seharusnya memiliki tujuan yang lebih mulia, menjadikan setiap hal yang dilakukan di dalamnya dapat terus menambah nilai kebaikan di hadapan Allah. Sehingga merancang suatu pernikahan yang barokah merupakan suatu tujuan yang seharusnya dikejar.

Menyiapkan suatu pernikahan yang barokah harus dimulai dari sebelum pernikahan dilakukan. Diantara hal yang menjadikan suatu pernikahan tidak berkah adalah ketika syahwat yang mendahului dan ketika syariat diinjak-injak. Ketika suatu pernikahan sebelumnya diawali dengan perbuatan-perbuatan yang melanggar syariatNya maka keberkahan dalam pernikahan akan menjadi lebih sulit untuk diperoleh. Sebagai contoh, ketika pernikahan diawali dengan proses pacaran yang nyata-nyatanya dilarang, yang ternyata di dalamnya banyak kejadian-kejadian yang seharusnya tidak boleh dilakukan, seperti saling berpegangan tangan, berduaan dan perbuatan lainnya yang mendekati perzinaan maka bisa jadi ini adalah awal dari ketidakberkahan dalam pernikahan. Ketika sudah terjadi? maka lekaslah bertaubat dan menjaga diri agar tidak lagi melanggar batasan yang telah ditetapkan kemudian segera menyegerakan.

Sebaliknya, jalan yang dapat ditempuh agar mendapat pernikahan yang barokah adalah dengan terlebih dahulu memulai dengan jalan yang syar'i, tanpa melalui pacaran tapi dengan ta'aruf yang dilandasi dengan rasa cinta kepada Allah. Dengan tetap menjaga kesucian diri dan terus meminta kepada Allah SWT. Suatu pernikahan yang barokah adalah suatu pernikahan yang dilandasi dengan sikap Tauhid yang benar. Bahwa segala sesuatu telah ditakdirkan atas kehendak Allah SWT.



Pernikahan yang diawali dengan niatan dan perbuatan yang baik disertai langkah nyata mengejar apa yang diridho-Nya akan melahirkan keluarga yang barokah, yang berlandaskan atas syariat-Nya. Menjadi keluarga penghasil anak-anak sholeh yang mampu menegakkan syariat-Nya dalam kehidupan, yang tak pernah lepas dari Qur'an dan mengingat-Nya. Keluarga yang bukan saja hanya menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah, tapi sebuah KELUARGA DAKWAH yang tangguh dan kokoh. Keluarga yang lahir dan mempraktekan nilai-nilai Qur'an dalam kehidupan rumah tangga. Menjadi keluarga penghafal Qur'an dan mengambil nilai Qur'ani dalam setiap langkah. Keluarga yang dibentuk berlandaskan atas rasa cinta pada Allah yang kemudian mampu menjadi madrasah kehidupan untuk meniti bekal ke jannah-Nya.

Keluarga DaSaMaRa...Keluarga Dakwah yang Sakinah, Mawaddah Warahmah...Ini seharusnya yang menjadi visi pernikahan kita.^^

Jomblo? Mari Menyiapkan Pernikahan dengan Matang.
Salah satu perkataan Ustd BN yang cukup terekam kuat di memoriku ketika seminar adalah tentang rahasia mencari jodoh bagi para jomblo. Ada dua rahasia yang sebaiknya kita lakukan dalam mencari jodoh, yang pertama adalah tetap menjaga kesucian diri dan yang kedua adalah mintalah kepada Allah. ^__^

Yang harus menjadi catatan penting dan pegangan untuk kita para jomblo dalam menanti jodoh adalah bahwa Allah telah menyiapkan untuk kita jodoh masing-masing. Karena manusia telah diwajibkan oleh Allah untuk berpasang-pasangan. Kita hanya perlu berpikir positif kepada Allah, berkhuznudzon bahwa Allah akan memberikan jodoh yang terbaik untuk kita, tentu saja diikuti dengan sikap nyata menjaga kesucian diri dan terus berdoa serta berusaha. Semakin besar sikap khuznudzon kita kepada Allah tentang jodoh kita maka akan semakin Allah dekatkan dia untuk kita. Dan jika waktunya sudah tiba maka kita akan dipertemukan dengan jodoh kita oleh Nya yang kemudian akhirnya bisa menjalani hidup dengannya. Seseorang yang telah Allah takdirkan menjadi bagian dari kehidupan kita.

Rasulullah SAW telah memberikan beberapa parameter untuk memilih kriteria pasangan hidup. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, al-Nasai, Abu Dawud Ibn Majah Ahmad ibn Hanbal, dan al-Darimi dalam kitabnya dari sahabat Abu Hurairah ra disebutkan bahwa:

"Perempuan dinikahi karena empat faktor. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka menangkanlah wanita yang mempunyai agama, engkau akan beruntung."
Kriteria terpenting dalam memilih pasangan yang ditunjukkan oleh Rosululloh adalah dari segi agama. Karena dengan agama yang kuat seorang istri akan mampu membawa kita ke arah ketaatan kepada Allah. Seorang pasangan yang memiliki iman yang kuat di dalam hatinya akan menjadikan keluarga diliputi suasana penuh ketaatan beribadah kepada Allah. Sebaliknya kondisi pasangan yang lemah iman akan menjadikan keluarga jauh dari sikap taat kepada Allah. 

Seseorang yang akan menikah perlu mempersiapkan beberapa hal agar pernikahan yang dilakukan menjadi barokah dan mampu menjadi keluarga Qur'ani. Beberapa persiapan yang diperlukan antara lain adalah sebagai berikut:
  1. I'dad Ruhy (Persiapan Ruhiy); memahami bahwa pernikahan adalah sunnah kauniyah, memahami bahwa menikah adalah bentuk ibadah kepada Allah SWT, memahami bahwa pernikahan harus sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya dan memahami bahwa jodoh, rizqi, dan umur adalah takdir Allah.
  2.  I'dad Fikry (Persiapan Pengetahuan); memahami adab pergaulan dengan lawan jenis dan tata cara pernikahan Islami, memahami tujuan perkawinan, memahami hak dan kewajiban suami istri, memahami hak dan kewajiban ayah/ibu dan menentukan visi berkeluarga.
  3. I'dad Jasadi (Persiapan Fisik); siapkan fisik sehat dan bugar serta mengerti tentang kelemahan fisik masing-masing.
  4. I'dad Mali (Persiapan Keuangan); menyiapkan perencanaan keuangan untuk pernikahan dan memahami pentingnya uang/harta dan penggunaannya sesuai syariat sebagai salah satu tonggak tegaknya 'izzah keluarga.

Akan lebih baik memang ketika kita telah mengerti dan memahami seluk beluk pernikahan sebelum terjun langsung merasakannya. Karena suatu pernikahan akan kita jalani bukan hanya untuk satu atau dua tahun saja. So, mari kita belajar dan mempersiapkan. ^_^
Semoga mampu membangun pernikahan yang barokah, menuju keluarga dakwah yang sakinah, mawaddah warahmah..amiin.


Semoga postingannya bermanfaat.

Mungkin tidak sejelas seperti penyampaian pas aslinya di seminar, sedikit banyak juga telah saya bubuhi dan tambahi dengan apa yang saya baca terkait pernikahan Islami dari beberapa sumber. Terkait kewajiban dakwah, semoga dengan menyampaikan dan menuliskan ini dapat membawa manfaat...^^

So buat temen-temen yang masih belum puas dan tertarik mengikuti seminar pra nikah secara langsung bisa mengikutinya tahun depan. Insya Allah kegiatan seminar pra nikah Islami ini menjadi program rutin dari APWA, silahkan klik di sini untuk info lebih jelasnya. Oiya, sekedar info...APWA juga membuka kelas kursus pra nikah lo, kalau tertarik silahkan saja baca infonya di webnya langsung.
Sampai di sini dulu yaa,,
Mohon koreksi jika banyak kesalahan.
read more

Kamis, 22 Maret 2012

[15] Hidup


Melengkapi seri artikel-artikel tentang Tazkiyatun Nafs, kali ini saya ingin memposting ulang tentang salah satu poin penting yang harus kita pahami dalam menjalani hidup kita yang fana ini. Entah kenapa sekalipun saya sudah sering membaca tentang hal ini tetapi masih saja sangat sering melalaikannya. Semoga dengan menuliskan dan membagi dengan orang lain, Allah SWT memberikan kemudahan dalam mengamalkannya. Ibarat membangun sebuah rumah, maka hal yang harus direncanakan secara matang dan dibangun paling awal adalah pondasi rumah. Pondasi ini memegang peranan yang sangat penting. Kokoh dan tidaknya bangunan rumah yang kita bangun berawal dari pondasi yang kita bangun. Dengan pondasi yang kuat, rumah kita akan terjamin mampu bertahan lama, tahan terhadap gempa dan tidak masalah ketika kita hendak menambah bangunan lagi di atas rumah kita.

Demikian pula dengan hidup kita, jika hidup kita layaknya sebuah rumah yang akan kita bangun tadi, maka kita memerlukan suatu pondasi/dasar yang kuat agar hidup yang kita jalani ini tidak menjadi suatu kesia-siaan belaka. Namun menjadi hidup yang indah dan penuh berkah, sebagai ladang mencari bekal untuk mencapai jannah. Kemudian dasar atau pondasi seperti apa yang seharusnya kita bangun? Dasar atau pondasi yang harus kita bangun ini sebenarnya berkaitan dengan pemahaman dan kesadaran tentang siapa sebenarnya diri kita dan hakikat keberadaan kita di dunia ini. Dengan memegang erat makna dari dua hal itu maka hidup yang kita jalani menjadi lebih bermakna, memiliki tujuan yang jelas dan selalu diiringi dengan langkah nyata mencapai tujuan itu.

Okke langsung saja, berikut saya tuliskan ulang postingan saya yang sudah saya pos kan di tumblr tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup. Selamat membaca, semoga tulisan ini semakin menambah kuat pondasi hidup teman-teman semua.

Hey,siapa sebenarnya kamu ini? Untuk apa sebenarnya kamu dilahirkan ke dunia ini? Cepet jawab!

Haa, mungkin lebih tepatnya bukan “kamu” tapi “aku”. Yaah, aku yakin kamu pasti sudah sangat tau tentang jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, tapi simpanlah dulu jawabanmu itu ya. Aku ingin juga menjawab pertanyaan itu sesuai versiku. Semoga jawabanku tidak salah dan sama dengan jawabanmu. Menurutku walaupun 2 pertanyaan ini bisa dibilang pertanyaan yang sangat sederhana, tapi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini adalah “cikal-bakal” yang menjadikan kita bergairah dalam menjalani hidup ini.
Beberapa hari yang lalu aku baru tersadar kembali ketika aku sedang membaca sebuah buku dan ada dua pertanyaan seperti itu tertulis didalamnya. Dulu aku juga pernah ditanya dengan pertanyaan yang sama oleh guru ngajiku ketika aku masih sangat imut-imut kala masih berseragam biru-putih, hahaa. dengan polosnya aku jawab “aku ya eka nurdiyanto…untuk jadi guru, mas”, begitu entengnya dulu aku jawab pertanyaan-pertanyaan itu,hehee.
Seiring berjalannya waktu, lama-lama mikir juga akhirnya. Sebenernya aku ini siapa si? Apa sebenernya tujuan hidupku ini? Setelah dipikir lagi ternyata cukup lama juga aku hidup dalam ke-geje-an. Jalanin hidup hanya ala kadarnya saja, kalo kata orang mungkin gini “jalanin hidup ya udah ngalir aja, ikutin arus aja”. Hemm, ini pasti gara-gara dua pertanyaan itu ku jawab dengan ala kadarnya juga. Iya kalo arusnya menuju ke tempat yang bersih, kalo ujung-ujungnya menuju ke septictank apa nda repot jadinya. Malah jadi hidup dengan kehinaan.
Okke, langsung aja..intinya, jawaban dari pertanyaan itu sebenarnya sangat penting buat kita. Jawaban itulah yang seharusnya selalu kita ingat, kalo perlu kita ukir di otak kita biar tidak mudah terhapus. Kemudian kita peras keringat dan banting tulang kita, berusaha agar jawaban pertanyaan itu dapat terwujudkan dalam hidup kita. Tapi jawaban yang benar tentunya, bukan hanya kaya jawabanku pas masih imut-imut itu, hee. Nah, jawaban yang benar itu yang kaya apa si? mari kita merujuk ke pedoman hidup kita di dunia ini sebagai seorang muslim yaitu Al Qur’an.
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakanmu (al ‘Alaq:1)

“Allah menciptakan manusia dari air mani…” (an-Nahl:4)

Okke,sudah jelas kan? Dari dua ayat di atas dapat ditarik kesimpulan kalo aku ini-kita ini-manusia adalah wujud yang diciptakan. Siapa yang menciptakan? Dialah Allah, Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sehingga jelaslah sudah kalo kita ini hanyalah mahlûq hasil dari yang mencipta (khâliq). Artinya sebenarnya kita berada satu level dengan hewan, tumbuhan, air dan entitas lainnya di alam ini, yaitu level makhuk. Memang Allah telah memberikan kepada kita posisi teratas dari semua yang diciptakan yaitu sebagai ciptaan terbaik (at-Tîn : 4) sekaligus ditunjuk Allah sebagai wakil dengan tugas kepemimpinan diantara makhluk lain (al-An’am : 165).
Namun demikian, ini tidak boleh menjadikan alasan bagi kita untuk bersikap angkuh, berbangga diri dan sombong dalam hidup kita. Sebab semua yang kita miliki tak lebih dari sekedar pemberian dan pinjaman Allah yang semuanya bisa diambil kembali kapan saja dan semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Jadi, jawaban dari pertanyaan “siapa sebenarnya aku ini?” adalah “makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt”, catat ya..hanya makhluk-hamba Allah.
Okke lanjut ke pertanyaan kedua, mari merujuk ke Al Qur’an kembali ya, karena itulah pedoman hidup kita di dunia.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (adz-Dzariyat:56)

Dari ayat di atas jelaslah sudah apa yang sebenarnya menjadi tugas sekaligus tujuan hidup kita di dunia, yaitu untuk menyembah-mengabdikan diri kita kepada Allah Swt. Dengan kata lain adalah untuk beribadah kepada-Nya. So, jawaban dari pertanyaan kedua terjawablah sudah.
Kalo aku gabungkan mungkin jadinya gini “aku adalah hamba Allah yang hidup untuk beribadah kepada-Nya”. Inilah yang seharusnya menjadi catatan penting yang harus terus terukir diotak dan hatiku-otak dan hati kita. Jadi hidup tidak hanya ala kadarnya sekedar ngikutin arus kehidupan tapi ada kemauan dan usaha untuk mencapai tujuan tadi. “emang apa untungnya hidup hanya untuk beribadah?” banyaaak untungnya, mau tau?? mari kita cari jawabannya dengan beribadah di dunia sebaik-baiknya^^. Jangan lupa dalam beribadah kita harus ngikutin apa yang dicontohkan oleh Rosulullah SAW sehingga ibadah yang kita lakukan tiada sia-sia.

Lalu, bagaimana caranya agar semua perbuatan yang kita lakukan bernilai ibadah di hadapan Allah SWT? Mari kita cari tahu bersama...semoga pada kesempatan-kesempatan yang akan datang saya bisa menuliskan lagi tentang jawaban pertanyaan di atas.
Semoga bermanfaat.
Mari hidup sebagai hamba Allah yang senantiasa berusaha maksimal beribadah kepada-Nya...^^
read more

Minggu, 12 Juni 2011

[7] Cinta


"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)". (Q.S. Ali Imran [3] : 14)

Manusia adalah makhluk yang sempurna, ia dibekali hati oleh Allah SWT sebagai alat yang berfungsi untuk merasakan. Melalui hati inilah manusia mampu mengetahui bagaimana rasa senang, sedih, khawatir, bahagia, dan rasa yang lainnya termasuk rasa ketika cinta itu hadir. Hati terkadang bisa mendorong mata untuk menangis dan bibir untuk tersenyum. Dengan hati inilah manusia berhak untuk merasakan cinta, dicintai dan mencintai.

Cinta, satu kata yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Namun apa sebenarnya cinta itu? kalau ditanya pertanyaan semacam ini mungkin anda lebih tahu secara detail jawabannya. Apalagi bagi anda yang sudah pernah merasakannya atau sedang merasakannya saat ini. Tapi sekarang simpan dulu jawaban anda. Biarkan aku menuliskan yang ku tahu tentang cinta di sini.

Aku sendiri sebenarnya sangat tertarik dengan rasa yang namanya cinta ini. Karena menurutku cinta ini adalah seperti sebuah virus yang sangat hebat dan kuat, siapapun orangnya, profesi apapun, dengan latar belakang apapun sangat berpotensi terkena cinta. Termasuk aku sebagai seorang manusia biasa juga berpotensi terkena virus cinta ini. Sebuah getaran rasa yang menandakan rasa suka, rasa ingin selalu dekat, rasa ingin selalu diperhatikan, rasa ingin selalu bersama orang yang dicintai. Yah, mungkin anda pernah merasakan hal itu, termasuk aku mungkin. Melihat kenyataan bahwa semua orang pasti berpotensi jatuh cinta kepada lawan jenisnya, maka menurutku akan menjadi penting bagi kita untuk mengetahui cinta secara lebih mendalam.

Cinta adalah sebuah fitrah manusia. Seperti pada ayat Quran yang kutuliskan di atas, Allah telah menanamkan perasaan cinta yang tumbuh di hati manusia, entah itu kepada lawan jenisnya, anak, maupun pada harta duniawi. Islam adalah agama fitrah, sedang cinta itu adalah fitrah kemanusiaan. Islam tidak mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri manusia. Islam tidak pula melarang seseorang untuk dicintai atau mencintai, bahkan Rasulullah menganjurkan agar cinta itu diutarakan. "Apabila seseorang mencintai saudaranya maka hendaklah dia memberitahu bahwa dia mencintainya". (HR Abu Daud dan At Tirmidzi).

Cinta pada lawan jenis bukanlah sesuatu yang kotor. Seorang muslim dan muslimah tidak dilarang untuk saling mencintai, mereka juga tidak dilarang untuk jatuh cinta. Cinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah perasaan yang manusiawi yang bersumber dari fitrah yang diciptakan Allah di dalam hati manusia. Jadi cinta bukanlah sesuatu yang kotor, karena kekotoran dan kesucian tergantung dari bingkainya. Ada bingkai yang suci dan halal dan ada bingkai yang kotor dan haram. Bila bingkainya sesuai syariat yaitu pernikahan, maka cinta itu halal. Namun bila bingkainya pacaran, perselingkuhan dan perzinaan maka cinta itu dilarang. Cinta tidak haram dan akan tetap terjaga kesuciaannya selama tidak menimbulkan kemaksiatan kepada Allah. Inilah yang harus digarisbawahi karena seringkali dengan dalih cinta, namun menghalalkan apa-apa yang Allah haramkan.

Dalam Islam, sebenarnya telah ada peringkat-peringkat cinta, siapa yang harus didahuluan, siapa pula yang harus diutamakan dan siapa yang harus diakhirkan. Tingkatan ini sebaiknya penting untuk diketahui agar kita memiliki prioritas yang benar dalam mencintai. Tidak menjadi seseorang yang salah besar karena menandingi cinta Allah dengan cinta kepada makhlukNya. Menurut Ibnul Qoyyim, terdapat enam peringkat cinta (murotibul mahabah), yaitu :
  1. Peringkat ke-1 dan yang paling tinggi adalah tatayyum, yang merupakan hak Allah semata (Q.S. Al Baqarah [2] : 165). Allah lah yang paling utama, tak ada tandingan tak ada bandingan. Allah yang pertama dan akan selalu menjadi yang pertama. Cinta kita kepada Allah harus menjadi puncak dari segala cinta yang kita miliki.
  2. Peringkat ke-2 : 'Isyk yang hanya merupakan hak Rasulullah SAW. Cinta yang melahirkan sikap hormat, patuh, ingin membelanya, ingin mengikutinya, mencontohnya, dll. Namun, bukan untuk menghambakan diri padanya. Kita mencintai Rasulullah dengan segenap konsekuensinya.
  3. Peringkat ke-3 : Syauq yaitu cinta antara mukmin dengan mukmin lainnya. Antara suami istri, antara orang tua dan anak, yang membuahkan rasa mawaddah wa rahmah.
  4. Peringkat ke-4 : shahabah yaitu cinta sesama muslim yang melahirkan ukhuwah islamiyah. Cinta ini menuntut sebuah kesabaran untuk menerima perbedaan dan melihatnya sebagai sebuah hikmah yang berharga.
  5. Peringkat ke-5 : Ithf (simpati) yang ditujukan kepada sesama manusia. Rasa ini seringkali muncul jika rasa kemanusiaan kita tersentuh. Rasa simpati ini melahirkan kecenderungan untuk menyelamatkan manusia, termasuk pula di dalamnya adalah berdakwah.
  6. Peringkat ke-6 adalah cinta yang paling rendah dan sederhana, yaitu cinta kepada selain manusia : harta benda. Namun, cinta ini sebatas intifa' (pendayagunaan/pemanfaatan). Cinta jenis ini pula yang sering menggelincirkan manusia.
Itulah sedikit yang bisa kutulis tentang cinta. Semoga bisa menjadi tambahan referensi dalam mengelola dan mengenal cinta. Karena cinta bisa datang setiap saat pada siapa saja, semoga kita tidak salah dalam mengelolanya nantinya.

Beberapa isi dalam tulisan ini kuambil dari buku karya Burhan Sodiq yang berjudul "Ya Allah, Aku Jatuh Cinta". So, buat yang pingin lebih dalam mengenal tentang cinta dan bisa menelola cinta ketika dia datang tanpa harus terkena dosa silahkan baca buku ini.

"Cinta ibarat kupu-kupu. Makin kau kejar, makin ia menghindar. Tapi bila kau biarkan ia terbang, ia akan menghampirimu di saat kau tak menduganya. Cinta bisa membahagiakanmu tapi sering pula ia menyakiti, tapi cinta itu hanya istimewa apabila kau berikan pada seseorang yang layak menerima. Jadi tenang-tenang saja, jangan terburu-buru dan pilihlah yang terbaik".

* Sebuah catatan dari seorang mahasiswa yang tanpa sengaja memikirkan cinta di tengah tugas skripsinya yang menunggu deadline.


read more

Kamis, 09 Juni 2011

[6] Menggapai Kehidupan Bahagia (part 1)


"bahagiakah kita saat ini...?"

Memiliki kehidupan yang bahagia, dimana di dalamnya terdapat ketentraman, kesenangan dan ketenangan hati serta hilangnya keresahan dan kesedihan hati adalah tujuan hidup semua manusia. Setiap orang pasti ingin memiliki hidup yang bahagia, hidup yang benar-benar bahagia, bukan suatu bahagia yang semu belaka. Kebahagiaan yang tidak hanya dinilai dari besarnya materi duniawi tapi juga dari ketentraman dan kebahagiaan hati serta mampu meraih kebahagiaan di akhirat kelak.

Ada banyak pemikiran orang mengenai cara meraih hidup yang bahagia, sebagian ada yang berpendapat hidup bahagia bisa diperoleh dengan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Orang yang memiliki pemikiran seperti ini akan selalu berusaha agar apa yang ia lakukan mampu menghasilkan keuntungan duniawi, tujuan hidupnya hanya terarah untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya harta. Dalam pikirannya semakin banyak harta yang dikumpulkan maka akan semakin bahagia hidupnya, sehingga hampir seluruh waktu dan tenaga yang ia miliki ia habiskan untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya harta. Tak jarang sekarang kita lihat banyak terjadi kasus-kasus korupsi karena adanya pemikiran seperti ini. Menurutku pemikiran seperti ini bukan pemikiran yang tepat dalam meraih kebahagiaan hidup, yang ada nantinya adalah rasa was-was dan khawatir jika harta yang telah ia kumpulkan akan hilang. Hatinya akan selalu merasa tidak tenang, resah dan khawatir terhadap hartanya. Bukannya dapat menikmati hidup yang bahagia, yang ada malah selalu merasa khawatir dan tidak tenang. Apalagi bagi para koruptor, di dunia tidak tenang di akhirat tidak selamat.

Sebagian yang lain ada juga yang berpendapat semakin tinggi kekuasaan yang ia miliki maka ia akan dapat meraih kebahagiaan dalam hidupnya. Sehingga tak jarang sekarang kita lihat bagaimana ketatnya persaingan yang terjadi diantara orang-orang untuk mendapat kekuasaan/kedudukan yang lebih tinggi. Tidak sedikit orang yang memiliki pemikiran seperti ini melakukan hal-hal yang kurang sehat di dalam persaingannya. Menebar janji palsu, menyogok sana-sini, atau bahkan sampai membuat berita-berita bohong agar ia mendapatkan dukungan dari masyarakat. Menurutku bukan seperti ini jalan untuk mendapat hidup yang bahagia. Jika untuk mendapatkan hidup yang bahagia harus dilalui dengan jalan yang tidak benar apakah hidup yang benar-benar bahagia bisa diraih? Aku rasa tidak.

Saat ini telah banyak beredar buku-buku yang membahas tentang meraih hidup bahagia yang dikarang oleh orang-orang barat. Telah banyak orang-orang yang mengambil manfaat dari buku-buku ini. Namun yang dibahas dalam buku-buku ini kebanyakan hanya membicarakan bahagia di dunia saja yang semu. Salah satu pengarang dari buku-buku ini ternyata tidak mampu menikmati hidup yang bahagia, bahkan ia mati dengan bunuh diri. Ia hanya membicarakan pengembangan diri, bahagia, sukses secara materi duniawi saja tanpa dilandasi agama dan iman sehingga tidak mampu mendapatkan sebenar-benarnya bahagia. Kita, orang Islam telah memiliki banyak buku-buku pengembangan diri yang hebat, yang berbicara tidak hanya dari faktor materi duniawi saja tetapi juga membahas masalah akhirat/hari akhir.

Ada beberapa sarana yang membantu untuk mendapatkan hidup yang bahagia, kalau diringkas maka ada 3 sarana yaitu :
  1. Asbab diniyah, sarana berupa pembenahan kehidupan religi, sarana berupa agama.
  2. Asbab thobi'iyyah, sarana yang bersifat alami.
  3. Asbab 'amaliyah, sarana praktis yang dijalani dengan kesungguhan, berusaha beramal.
Ketiga sarana ini hanya mungkin dimiliki oleh orang-orang beriman saja. Oleh karena itu orang-orang yang tidak beriman walaupun sudah berusaha dengan maksimal untuk meraih hidup bahagia tidak mampu mendapat hasil yang lebih baik dari orang beriman.

Syeikh Abdurrahman bin Nasir Assa'di dalam kitabnya "Menggapai Kehidupan Bahagia" (judul terjemahan) memberikan tips agar kita dapat hidup bahagia. Tipsnya berisi 23 kiat hidup bahagia, isinya sebagai berikut :
  1. Beriman dan beramal sholeh yang sebenarnya. Dalam surat An Nahl : 97, Allah SWT berfirman yang artinya : "Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya Kami akan memberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan". Ini adalah janji Allah dan Allah tidak akan mungkin memungkiri janjiNya. Ini adalah janji Allah kepada orang-orang yang memadukan antara iman dan amal sholeh, bahwa mereka akan mendapatkan al hayaatuth thoyyibah (kehidupan yang baik di dunia) dan al jazaa ulhasan (balasan yang baik di dunia dan akhirat). Maka tidak ada keraguan lagi bahwa dengan beriman dan beramal sholeh merupakan kunci pertama untuk mendapat kehidupan yang bahagia.
  2. Berbuat baik kepada orang lain, baik berupa ucapan, perbuatan ataupun berbagai kebaikan-kebaikan yang lain karena mengharap ridho Allah. Dalam Surat An Nisa : 114 Allah berfirman yang artinya : "Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhoan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar". Kalau kita menyibukan diri kita dengan kebaikan-kebaikan maka dampaknya akan kembali ke kita sendiri. Jika kita membahagiakan dan menyenangkan orang lain (dalam hal kebenaran) maka yang pertama-tama bahagia adalah kita sendiri. Oleh karena itu orang-orang yang senantiasa berbuat baik pada orang lain akan di bantu oleh Allah SWT dalam urusan-urusannya. Allah hilangkan kesumpekan dan kegelisahan hatinya tergantung kadar kebaikan dan kebajikannya kepada orang lain.
  3. Mencari dan menyibukan diri dengan hal-hal yang positif. Menyibukan diri dengan hal-hal yang positif akan menjadi benteng agar kita tidak mengerjakan hal-hal yang negatif. Karena jika tidak menyibukan diri dengan hal yang positif maka diri kita akan menyibukan diri dengan hal yang negatif. Jika kita sudah menyibukan diri dengan hal-hal yang positif maka kita akan bisa melupakan kekalutan hati sehingga jiwa akan senang, semangat tumbuh dan bertambah serta hidup ini semakin cerah.
Pada kesempatan ini mungkin hanya 3 kiat dulu yang bisa aku tulis. Nantikan lanjutannya di tulisan selanjutnya ya. Mari sama-sama kita berusaha meraih hidup yang bahagia, hidup bahagia yang sebenar-benarnya. Semoga Allah memberikan kebahagiaan untuk kita di dunia dan akhirat. aamiin...^.^

Tulisan ini terinspirasi dari ceramah Ustad Abdullah Shaleh Hadrami di Radio Dakwah Islamiyah.

*Catatan seorang mahasiswa yang terinspirasi untuk dapat selalu hidup bahagia di tengah-tengah kegalauan tugas skripsinya.


read more

Senin, 21 Maret 2011

[4] Tadabbur Q.S. AL Mukminun : 1-11


"Iman tidak selamanya sama, kadang naik kadang turun..."

Sahabat, sungguh sangat beruntung kita telah dipilih oleh Allah SWT sebagai seseorang yang memiliki Iman kepada-Nya. Semoga kita termasuk seseorang yang senantiasa bersyukur atas nikmat iman ini dan selalu berusaha agar iman ini bukan hanya sebagai hiasan bibir dan pemanis kata apalagi sekedar keyakinan hampa. Tapi sebuah keyakinan yang menghunjam dalam hati, diungkapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan tindak nyata. Karena hakikat iman menurut ulama AhluSunnah mencakup tiga hal yaitu :

     1.  At tasdiqu bil qalbi (membenarkan dengan hati)
     2.  Al qaulu bil lisan (melafalkan dengan lisan)
     3.  Al 'amalu bil arkaan/bil jawarlih (melaksanakan dengan segenap potensi 'anggota badan')

Ketiga hal itu tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya, sehingga iman merupakan keyakinan dan amal. Bukan hanya angan - angan melainkan apa yang tertanam menghunjam di dalam sanubari dan dibenarkan oleh amal perbuatan.

Allah SWT telah memberikan gambaran yang cukup banyak mengenai karakteristik orang yang beriman di dalam Al Qur'an dan bagaimana beruntungnya mereka yang memiliki karakteristik tersebut karena Allah telah menjanjikan surga sebagai tempat kembalinya kelak. Salah satunya adalah dalam Q.S. Al Mu'minun ayat 1-11. Sahabat, mari kita sama - sama mentadabburi bagaimana karakteristik tersebut.

Pada ayat 1-9 Allah menjelaskan karakteristik orang yang beriman, yaitu :
  1. Khusyuk dalam sholat, yang dimaksud khusyuk dalam sholat : Mengerti bacaan - bacaan sholat, Memusatkan perhatian pada waktu sholat hanya kepada Allah serta mengikhlaskan ketaatan, Ikhsan dalam sholat (beribadah hanya kepada Allah seolah - olah engkau melihatNya, maka sesungguhnya Ia melihat engkau), tenang dan konsentrasi.
  2. Menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak berguna. Dari Abu Hurairah R.a, sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (H.R. Bukhari-Muslim). Telah bersabda Rasulullah SAW : "Sebagian kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya."
  3. Menunaikan Zakat. Zakat memiliki banyak manfaat bagi orang mukmin, antara lain, membersihkan diri dari sifat kikir dan cinta yang berlebihan pada dunia dan mensucikan hati sehingga tumbuh sifat - sifat kebaikan dalam hati (Q.S. 9:103).
  4. Menjaga kemaluan dari perbuatan keji zina (Q.S. 17:32). Imam Ahmad berkata : "saya tidak dapat mengetahui setelah pembunuhan ada dosa besar daripada perzinaan".
  5. Menahan pandangan dan memelihara kemaluannya (Q.S. 24:30-31).
  6. Memelihara amanat dan menepati janji (Q.S. 70:32-35). "tanda orang munafik ada tiga, yaitu apabila berbicara dusta, apabila berjanji ingkar, dan apabila dipercaya berkhianat". (H.R. Syaikhani dari Abu Hurairah r.a). Semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan orang - orang munafik.
  7. Memelihara sholat (Q.S 4:103, 2:43, 22:41). Sholat adalah pembeda antara muslim dan musyrik kafir, Rasulullah SAW bersabda : "beda antara muslim dan musyrik atau kafir adalah meninggalkan sholat"(H.R. Muslim).
Sedangkan dalam ayat 10 dan 11 Allah memberikan balasan kepada orang - orang yang memiliki karakteristik di atas berupa surga firdaus, mereka kekal di dalamnya.

Itulah beberapa ciri - ciri orang yang beriman dalam Q.S. Al Mu'minun. Semoga kita memiliki ketujuh karakteristik tersebut dan senantiasa berusaha agar karakteristik tersebut tidak hilang dalam diri kita karena Allah telah menjanjikan surga firdaus dengan segala kenikmatan di dalamnya bagi orang beriman yang memiliki karakteristik seperti di atas.

Sahabat, sudah menjadi fitrah jika manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat fujur (dosa) dan ketakwaan (Q.S. 91:8-10). Hal ini menjadikan keimanan seseorang mengalami fluktuasi, kadang naik, kadang turun. Rasulullah bersabda, "keimanan itu bisa bertambah bisa berkurang. Maka perbaharuilah iman kalian dengan Laa Ilaaha illallah." (H.R. Ibnu Islam). Sehingga keimanan menuntut keistiqomahan dalam mempertahankannya. Tugas kita sekarang adalah bagaimana agar kita bisa tetap istiqomah mempertahankan keimanan kita pada posisi tertinggi sehingga selalu memiliki semangat untuk menjalankan amal sholeh sebagai bekal menghadapNya kelak. Semoga kita termasuk orang - orang yang beruntung yang dipertemukan oleh Allah SWT kelak di surga firdausNya. Amiin.
Allahu a’lam.
read more