Senin, 30 April 2012

Pengasuhan Anak


"Melahirkan anak yang sholeh dan sholehah".

Masjid Al Arqam, BPS Pusat

Tema ini muncul setelah hampir semua jamaah dhuhur yang duduk di masjid Al Arqam BPS menyatakan sepakat dari dua opsi lain yang diberikan oleh Ustad Muhsinin Fauzi siang tadi. Memang kajian senin kali ini berbeda dengan kajian senin seperti biasanya, karena hari ini adalah senin pekan kelima maka tema yang diangkat adalah tema tematik yang sedang up to date. Baru kali ini juga saya mengikuti kajian dimana tema kajian ditentukan beberapa menit sebelum kajian dimulai. Memang seperti inilah seharusnya seorang ustad itu, memiliki banyak bekal materi untuk disampaikan dan sesuai dengan keadaan yang terjadi saat ini, sehingga mampu membuat orang yang ikut kajian mengerti realitas yang dihadapi umat saat ini.

Dalam kajian ini disampaikan bahwa anak-anak jaman sekarang memiliki tantangan sekaligus karakteristik yang jauh berbeda dengan model anak-anak pada jaman dulu, hal ini membuat pola pengasuhan orang tua ke anak juga harus dibedakan. Beberapa karakteristik yang disebutkan antara lain yang pertama, anak jaman sekarang sangat well terhadap teknologi. Mereka mampu dengan cepat memahami dan menggunakan teknologi yang ada saat ini. Tidak sedikit anak-anak usia sekolah dasar saat ini sudah mahir menggunakan internet, hp maupun BB. Bahkan menurut pengamatan saya di warnet-warnet saat ini yang menjadi pelanggan terbanyak game online adalah anak-anak usia sekolah dasar.

Kedua, pola pemikiran anak saat ini adalah serba instan. Anak jaman sekarang lebih mementingkan hasil dan mengesampingkan proses dalam pencapaian hasil. Mereka tidak lagi melihat bahwa segala sesuatu itu membutuhkan proses, bersikap tidak sabar dan muncul pemikiran untuk melakukan langkah-langkah instan dalam mengerjakan sesuatu yang terkadang langkah itu berada diluar kewajaran seperti yang seharusnya dilakukan.

Ketiga, anak-anak jaman sekarang lebih cepat dewasa, sehingga sulit membedakan masa puber dengan dewasa. Kondisi anak saat ini sangat berbeda jauh dengan kondisi jaman dulu, dimana anak saat ini sudah banyak sekali disuguhi konten-konten dewasa yang belum semestinya diperoleh dari media masa. Ust. Muhsinin memberikan contoh nyata dari salah satu hasil penelitian tentang anak usia 9-10 tahun yang ternyata sudah mampu mengeluarkan sperma karena seringnya mendapat konten-konten dewasa yang semestinya belum didapat. Dari penelitian itu ternyata terungkap fakta bahwa di otak anak terdapat suatu hormon yang mampu merangsang pembentukan sperma yang akan aktif dan bekerja jika sering mendapatkan rangsangan dewasa dari luar. Normalnya sperma akan matang dan keluar setelah berusia 17 tahun.

_gambar diambil dari google
Hal ini merupakan suatu tantangan khusus bagi para orang tua agar mampu memberikan pengasuhan yang tepat sesuai dengan keadaan yang dihadapi saat ini. Mengingat anak merupakan tanggung jawab para orang tua. Orang tualah yang bertanggung jawab mengasuh dan mendidik para anaknya, memberikan pengawasan serta menjaga akidah dan agamanya. Orang tua memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, 

“Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?”

Sayangnya, para orang tua saat ini tidak banyak yang sadar dengan perubahan yang dialami oleh anak jaman sekarang seperti yang dijelaskan dalam ketiga contoh di atas. Masih banyak orang tua yang memberikan pola pengasuhan ke anaknya seperti pola yang diberikan kepada mereka sendiri dulu. Masih banyak yang memberikan pola pengasuhan dengan mementingkan aspek kognitif saja. Yang penting anak pintar, masuk sekolah favorit, bisa kuliah di universitas favorit dan mendapat kerja setelah lulus. Para orang tua masih banyak yang mengabaikan aspek mental dan spiritual anaknya. 

Padahal jika kita lihat tantangan yang dihadapi anak saat ini sungguh sangat jauh dengan jaman dulu. Anak-anak saat ini bisa dibilang sedang mengalami kebanjiran informasi. Berbagai informasi sebagai akibat dari perkembangan teknologi yang sangat cepat membawa dampak tersendiri terhadap penerimaan informasi yang didapat anak-anak. Banyak informasi yang seharusnya belum didapat kemudian sampai ke anak, baik itu tanpa sengaja maupun mereka mencari-cari sendiri karena terpengaruh lingkungan. Sebagai contoh, seperti yang disampaikan Ust Muhsinin adalah terkait pornografi dan pornoaksi. Betapa mirisnya para relawan pemerhati anak yang bertugas ke pelosok Sulawesi, di desa yang sangat terpencil di sana, mereka dapati anak-anak kecil sudah memiliki gambar-gambar porno. Bayangkan saja itu di pelosok Sulawesi, sebuah desa terpencil. Lalu bagaimana dengan anak-anak yang berada di kota-kota besar? Jakarta misalnya. Jika kita berkaca pada data, saat ini para pekerja seks komersial yang berada di salah satu daerah di Jakarta sekitar 70% dari mereka adalah para siswi yang masih duduk di SMP. 

Belum lagi dengan komunitas-komunitas di Jakarta yang notabene terdiri dari anggota anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah. Yang kemudian pada jam-jam tengah malam masih kongkow-kongkow dipinggir jalan. Bukan tidak mungkin mereka juga sudah pernah melakukan free sex. Pola anak sekolah yang berpacaran saat ini sudah menjadi suatu hal yang dipandang biasa oleh masyarakat. Bahkan film-film di televisi yang mempertontonkan adegan pacaran saat ini menjadi tontonan yang banyak diminati kalangan muda. Sehingga pola pemikiran yang terbentuk pada mereka juga menganggap wajar akan hal itu dan tanpa malu-malu melakukannya juga. 

Jika kita tarik suatu benang merah, ternyata karakter anak saat ini tidak lain juga terbentuk dari pengaruh kebanjiran informasi tadi. Proses perkembangan teknologi yang kemudian ikut membentuk karakter anak saat ini. Lalu, semakin banyaknya anak yang memilih teman sebagai tempat keluh kesahnya dibanding ke orang tua sendiri yang pada akhirnya membawa mereka ikut kongkow-kongkow merupakan dampak dari kurangnya kasih sayang dan perhatian yang diberikan oleh orang tua mereka. Sangat sedikitnya waktu yang disediakan oleh orang tua untuk anaknya membuat anak lebih suka bercerita tentang masalahnya ke teman-teman mereka, entah itu ikut dalam komunitas tertentu ataupun melalui media sosial.

Saya belakangan ini juga menemukan kasus seperti ini, saat ini saya mengajar privat beberapa orang anak SMA. Sempat saya diajak diskusi oleh salah seorang ibu dari anak yang saya ajar ini, dia bilang anaknya sekarang sangat susah diatur. Dia mengeluhkan kenapa anak jaman sekarang sangat jauh berbeda dengan masanya. Dia menceritakan kegiatan anaknya yang tiap hari dihabiskan di warnet main game online. Pulang sudah larut malam, itupun tidak langsung tidur setelah di rumah, sampai pagi ia justru habiskan untuk menonton bola. Ketika orang tua nya mencoba menasehati malah hanya timbul pertengkaran diantara mereka. Belajarpun tidak setiap hari dilakukan, alhasil nilai raportnya jadi jeblok, mungkin ini juga salah satu alasan mengundang guru privat.

Kasus semacam ini saya rasa menjadi suatu hal yang sudah tidak asing kita lihat dalam kehidupan sehari-hari saat ini. Bagaimana anak mau mendengarkan apa yang orang tua bilang jika waktu untuk berkumpul dengan mereka saja tidak ada sama sekali. Para orang tua saat ini lebih banyak disibukan dengan pekerjaan mereka dan sangat sedikit waktu untuk berkumpul dengan anak, memberikan perhatian dan kasih sayang kepada mereka. Pagi berangkat kerja, kemudian pulang sudah larut malam, otomatis tidak ada waktu untuk berkumpul dengan anak, apalagi jika istripun ikut bekerja. Dampaknya sang anak akhirnya menjadi tidak bisa diatur karena kurang perhatian dan kasih sayang.

Melihat realitas yang ada seperti ini, Ustd Muhsinin memberikan beberapa langkah yang mesti diperhatikan dan dilakukan oleh orang tua dalam mengasuh anak saat ini. Beberapa hal yang disampaikan oleh ustad antara lain:
  1. Orang tua harus memahami dengan benar kerakteristik anak dan apa yang mereka hadapi sekarang. Mengerti dengan betul bahwa yang dihadapi anak saat ini jauh lebih berat dibandingkan jaman dulu. Hantaman-hantaman informasi dari media masa yang diterima anak merupakan suatu hal yang berpengaruh dalam pembentukan karakter anak. Sehingga para orang tua harus sadar betul dengan keadaan seperti ini, jangan sampai pola pengasuhan yang diberikan tidak sesuai dengan realitas yang ada saat ini.
  2. Pola pengasuhan yang diberikan ke anak harus dirubah, tidak lagi hanya mementingkan aspek kognitif anak, tetapi harus melihat bagaimana sisi mental dan spiritual anak. Pola pengasuhan yang tepat adalah yang berlandaskan pada agama, syariat Islam. Memberikan pendidikan kepada anak dengan dasar tauhid kepada Allah, memberikan contoh bagaimana seharusnya manusia hidup sebagai hamba Allah. Bahwa Allah maha Melihat apa yang kita lakukan, mengajarkan mana yang menjadi kewajiban dan mana yang dilarang.
  3. Memberikan porsi waktu yang cukup untuk anak. Waktu untuk anak harus sesuatu yang menjadi prioritas, bukan waktu sisa kerja. Memberikan kasih sayang yang cukup kepada mereka, sehingga mereka akan merasa nyaman dengan orang tuanya, mau bercerita kepada orang tuanya atas apa yang mereka hadapi. Sehingga anak tidak mencari pelarian untuk melampiaskan keluh kesahnya ke teman atau lainnya.
  4. Memilihkan sekolah dan lingkungan yang tepat untuk anak. Hampir sebagian besar waktu yang dihabiskan anak dalam sehari dihabiskan di sekolah. Sehingga memilihkan sekolah yang tepat untuk anak menjadi suatu yang harus diperhatikan oleh orang tua. Lingkungan sekolah yang baik, yang senantiasa mengajarkan nilai-nilai Islam dalam kegiatan yang dilakukan merupakan suatu pertimbangan dalam memilihkan sekolah. Banyak orang tua yang beranggapan dan menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah. Padahal sekolah pada dasarnya merupakan tempat pengajaran, masalah pendidikan anak masih menjadi tanggungjawab orang tua. Jadi para orang tua masih memiliki kewajiban dalam mendidik anak dirumah.

Anak merupakan masa depan suatu bangsa. Baik buruknya keadaan bangsa kita nantinya akan sangat tergantung dari bagaimana pengasuhan yang dilakukan orang tua kepada mereka. Semoga dengan memperhatikan hal kecil seperti ini mampu memberikan manfaat dalam menyiapkan mereka untuk melanjutkan estafet kepemimpinan nantinya.

Eka Nurdiyanto


Wallahu a'lam bi showab.
Semoga Bermanfaat.

4 komentar:

  1. Balasan
    1. Syukron..

      Semoga nantinya ada manfaat yang bisa diambil.
      :)

      Hapus
  2. Jaman skrg para org tua banyak yang beranggapan kalau materi adalah segala-galanya buat anak... miris ya..

    BalasHapus
  3. memang sebagian orang tua saat ini masih berpikiran seperti itu, semoga ke depan nanti akan lebih banyak orang tua yang memperhatikan aspek agama dalam mendidik anak...

    syukron sudah membaca :)

    BalasHapus